Cristiano Ronaldo telan pil pahit. Dua musim beruntun, ia hanya mampu antarkan Juventu di babak 16 besar Liga Champions. Dinihari tadi, Rabu (10/3/2021), Ronaldo tak mampu bawa Juventus singkirkan Porto yang hanya bermain dengan 10 pemain.

Publik mulai mempertanyakan apakah ini menjadi akhir era Ronaldo di Juventus? Menilik ke tiga musim ke belakang khusus di Liga Champions, ia memang melempem. Ronaldo hanya mampu catatkan 14 gol bersama Juventus di tiga musim Liga Champions.

Pembelian Ronaldo dengan bandrol 100 juta euro pada 2018 tentunya dimaksudkan manajemen Juventus agar ia mampu membawa titel juara Liga Champions. Namun kemudian, ekspektasi itu tak mampu dipenuhi CR7. Faktanya, malah sejak kedatangan Ronaldo, Juventus gagal melewati babak perempat final Liga Champions.

Permainan Ronaldo memang buruk di laga melawan Porto dinihari tadi. Ia sama sekali tak menciptakan satu peluang pun. Meski memang ia berperan di gol Juventus yang dicetak Federico Chiesa. Namun untuk ukuran seorang Ronaldo, hal itu masih sangat kurang.

Secara statistik, kerja Ronaldo di partai melawan Porto juga tak seberapa dibanding rekannya yang lain seperti Chiesa ataupun Juan Cuadrado. Nama terakhir malah melepaskan 11 tembakan dari 22 usaha Juventus dinihari tadi.

Maka tak mengherankan kemudian jikan Andrea Pirlo usai pertandingan menyoroti kontribusi Ronaldo. Pirlo kesal karena pemain Portugal ada andil kesalahan pada gol kedua Porto yang dicetak Sergio Olivera lewat free kick.

“Belum pernah terjadi sebelumnya mereka (Ronaldo dan Rabiot) berbalik. Mungkin mereka merasa tendangan bebas yang diambil sangat jauh sehingga tidak bahaya,” kata Pirlo

“Itu adalah kesalahan, biasanya tidak terjadi. Para pemain tidak merasa itu adalah situasi berbahaya dan kebobolan gol,” ujarnya dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber.

Gagal di Liga Champions, Cristiano Ronaldo juga harus bersiap Juventus urung raih gelar Scudetto musim ini. Maka mungkin saatnya ia memikirkan untuk mengakhiri masa baktinya di Juventus untuk mencari klub baru di penghujung karier.

Salah satu pemain Porto yang jadi sorotan saat singkirkan Juventus ialah pemain asal Meksiko, Jesús Manuel Corona. Meski ia tak cetak gol, Corona mencatat sejarah tersendiri dengan menjadi pemain Meksiko pertama yang singkirkan Ronaldo di kompetisi Eropa.

Dikutip dari ESPN, sebelum Corona, sejumlah pemain asal Meksiko di klub Eropa berusaha untuk membuat malu Ronaldo di Liga Champions namun gagal. Ada Rafael Marquez, Guillermo Franco, Carlos Vela hingga Hector Herrera.

Marquez misalnya saat bersua Ronaldo di semifinal Liga Champions 2007-08, tak mampu membantu Barcelona. Saat itu Barca disingkirkan Manchester United.

Lalu ada Guillermo Franco, dua kali bersua Ronaldo, Franco tak berkutik. Pertama saat Villarreal jumpa Manchester United di babak fase grup Liga Champions 2007-08.

Masih di musim yang sama, Carlos Vela yang membela Arsenal juga tak bisa meredam kehebatan Ronaldo. Terakhir ada Hector Herrera di musim 2019-20 saat membela Atletico Madrid. Saat itu Herrera hanya mampu membawa Atletico menahan imbang Juventus yang diperkuat Cristiano Ronaldo.

Lebih Buruk Dibanding Messi?

Real Madrid Buka Peluang Kembalikan Cristiano Ronaldo - bolaskor.com

Mantan pemain tim nasional Italia di Piala Dunia 1986, Antonio Di Gennaro menilai bahwa penampilan Cristiano Ronaldo di musim ini lebih buruk dibanding Lionel Messi.

“Tahun-tahun berlalu untuk semua orang dan saya pikir Cristiano Ronaldo lebih mengecewakan daripada Messi,” kata Di Gennaro

“Saya belum pernah melihatnya begitu tersingkir dalam permainan. Dengan segala hormat kepada Porto, tetapi eliminasi seperti ini harus dianalisis dengan sangat hati-hati, sebagai klub hebat seperti Juve, mereka harus memahami apa yang terjadi pada tahun depan,” tambah Di Gennaro.

Kritikan dari mantan pemain Fiorentina itu memang cukup masuk akal. Menilik ke tiga musim ke belakang khusus di Liga Champions, CR7 memang melempem. Ronaldo hanya mampu catatkan 14 gol bersama Juventus di tiga musim Liga Champions.

PIL pahit harus ditelan dua pesepakbola terbaik dunia, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi di kancah Liga Champions UEFA. Untuk pertama kali dalam kurun 16 tahun terakhir, kedua mega bintang itu gagal menembus perempat final kompetisi antarklub tertinggi di Eropa tersebut.

Keduanya mengulang hasil buruk musim 2004-2005. Saat itu, Ronaldo yang membela Manchester Unted dan Messi di Barcelona, tersingkir di babak 16 besar. Kala itu, Manchester United disingkirkan AC Milan, sementara Barcelona dibungkam Chelsea.

Musim 2020-2021, Ronaldo gagal melanjutkan kiprahnya setelah Juventus, klubnya saat ini, disingkirkan FC Porto. Meraih agregat 4-4, Si Nyonya Tua, kalah gol tandang. Sedangkan Messi dan Barcelona disingkirkan PSG dengan agregat 2-5. Hasil yang didapat musim ini dinilai menjadi awal berakhirnya era Ronaldo dan Messi di Liga Champions.

Pasalnya, usia kedua pemain bintang itu tidak lagi muda. Ronaldo kini berusia 36 tahun sementara Messi 33 tahun. Sepanjang sejarah Liga Champions UEFA, Ronaldo dan Messi telah menjadi yang terbaik. Ronaldo telah lima kali meraih trofi juara sementara Messi empat kali.

Ronaldo juga menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Champions UEFA dengan 134 gol sementara Messi berada di posisi dua dengan 120 gol. Kini, sinar Ronaldo dan Messi di Liga Champions UEFA mulai meredup menuju padam.

Keduanya telah tergantikan oleh bintang-bintang muda yang menunjukkan talenta luar biasa. Sebut saja Kylian Mbappe. Bintang PSG ini bahkan memecahkan rekor Messi sebagai pemain termuda tercepat yang mampu mencetak 25 gol di Liga Champions.

Ada pula nama Erling Braut Haaland, striker andalan Borussia Dortmund. pemain berusia 20 tahun tersebut kini menjadi pemain termuda yang mengemas 20 gol di Liga Champions UEFA

Gelar Ballon d’Or sebagai simbol dari penghargaan pemain terbaik di jagat semesta ini juga bergantian dibagi hanya untuk mereka berdua. Jika memang ada pemain yang menyelip, itu bisa dianggap hanya karena kebetulan semata.

Pedih bagi mereka berdua, karena musim Liga Champions tahun ini terasa menyedihkan bagi mereka. Juventus ditaklukkan secara akumulasi oleh Porto melalui drama perpanjangan waktu, dan Messi tak mampu menyelamatkan Barcelona dengan mimpi remontada, setelah dilumat di Nou Camp sebelumnya.

Sementara itu, Arsene Wenger mengungkap, sepak bola dipaksa untuk berubah di era setelah Ronaldo-Messi.

“Kami belum pernah melihat pemain seperti Messi atau Ronaldo. Mereka adalah pemain yang dapat membuat sesuatu dari ketiadaan, tetapi karier mereka akan segera berakhir,” kata Wenger dalam wawancara dengan Talksport, yang dilaporkan Football Espana

“Sepak bola bergerak, tetapi permainan akan berubah ketika mereka pensiun.

“Namun kami memiliki generasi pemain baru yang datang, dengan dua penerus dalam diri Neymar dan Kylian Mbappe.”

Ronaldo bergabung dengan raksasa Serie A pada awal musim lalu, dan dia terikat kontrak di Turin hingga Juni 2022.

Situasi kontrak Messi telah menjadi subyek spekulasi musim ini, menyusul belum adanya kesepakatan Sang kapten dengan direktur klub Eric Abidal. Dilaporkan, La Pulga diminati  Manchester City.

Kontrak pemain internasional Argentina di Camp Nou akan berakhir pada akhir musim depan. Namun, Los Blaugrana berharap akan ada kesepakatan baru dalam beberapa bulan mendatang.

Penerus Rivalitas Ronaldo dan Messi

FOTO: Ragam Ekspresi saat Lionel Messi Merasa Kecewa - Spanyol Bola.com

Banyak kisah rivalitas hebat dalam dunia olahraga yang tersaji selama bertahun-tahun. Mulai permusuhan abadi John McEnroe versus Bjorn Borg, Muhammad Ali vs Joe Frazier, Jack Nicklaus vs Arnold Palmer, hingga Niki Lauda vs James Hunt.

Dalam sepak bola, kisah persaingan sengit Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo pun bakal terpatri cukup lama dalam ingatan pecinta olahraga.

Pasangan ini mendominasi panggung sepak bola dalam satu dekade terakhir. Mereka bahkan meraih 11 dari 12 penghargaan Ballon d’Or sejak 2008. Messi memenangkan enam gelar sementara Ronaldo hanya terpaut satu di bawah sang bintang Argentina.

Keperkasaan dua pemain ini dalam merobek gawang lawan tak tertandingi. Dalam 10 tahun terakhir Messi mencatat 368 gol di liga sedangkan Ronaldo 334 gol. Luis Suarez yang berada di peringkat ketiga tertinggal 110 gol lebih (233 gol).

Kemampuan super mereka bahkan belum berhenti hingga sekarang meski usia keduanya sudah sudah lewat kepala tiga. Namun, tak ada yang abadi di dunia ini.

Era Messi dan Ronaldo diprediksi akan segera berakhir lantaran banyak pemain muda hebat yang bermunculan ingin berebut takhta kemasyuran.

Akan sulit memang mencari rivalitas seperti dua pemain ini seperti yang pernah dikatakan Robert Lewansdowski beberapa tahun lalu, “Mungkin hanya 100 tahun sekali terdapat dua pemain hebat seperti mereka yang bermain di saat bersamaan.”

Namun, jika melihat perkembangan beberapa tahun terakhir setidaknya ada lima persaingan potensial yang bisa menentukan di dekade berikutnya. Berikut ulasan lengkapnnya:

Kylian Mbappe dan Joao Felix

Striker PSG Kylian Mbappe Ungkap Keinginan Main untuk Liverpool -  Pikiran-Rakyat.com

Kylian Mbappe akan ada dalam setiap kombinasi rivalitas karena dia satu-satunya yang dianggap paling memenuhi kriteria penerus Messi atau Ronaldo.

Di usia 20 tahun, namanya sudah tersohor.Torehan 117 gol dari 179 laga kompetitif bisa menjadi jaminannya. Itu sebabnya pemain PSG ini tidak akan dibicarakan dalam setiap seleksi.

Joao Felix seusia Mbappe, dia berasa dari Portugal dan disebut-sebut penerus Ronaldo. Permainannya disejajarkan dengan legenda hidup Brasil, Ricardo Kaka.

Tampil spektakuler bersama Benfica membuat Atletico Madrid rela menggelontorkan dana 126 juta euro untuk merekrutnya.

Setelah membukukan 20 gol dari 43 laga laga di Liga Portugal, tahun pertamanya di Metropolitano tidak semulus seperti diharapkan banyak orang.

Namun, tak ada yang meragukan potensi besar penyerang yang memiliki kecepatan dan kecerdasan ini.

Kylian Mbappe dan Jadon Sancho

Keputusan Jason Sancho meninggalkan Manchester City untuk memperkuat Borussia Dortmund terbukti tepat.

Permainan pemain 20 tahun ini meningkat tajam dan kini menjadi langganan starting 11. Dia telah memainkan 90 laga resmi dan menyumbang 31 gol.

Namun, kelebihan terbaik Sancho adalah menciptakan assist, sejauh ini sudah 42. Sekarang ini, dia mungkin talenta Inggris terbaik di dunia.

Kylian Mbappe dan Vinicius Junior

Dari semua pemain berbakat di sini, Vinicius Junior mungkin yang paling lambat perkembangan.

Winger Brasil ini direkrut Real Madrid musim panas lalu dan berhasil menarik perhatian. Sayangnya, dia punya sedikit masalah dalam penyelesaian akhir.

Namun jika berhasil mengatasi kelamahan itu, pemain 19 tahun ini bisa menjadi pemain terbaik di dunia.

Sempat kalah saing dengan Rodrygo Goes musim ini, Vinicius berhasil merebut kembali kepercayaan Zinedine Zidane dalam tiga laga terakhir Madrid sebelum kompetisi terhenti karena wabah virus corona. Bersama Los Blancos ada 15 assist dan 7 gol dari 59 laga.

Kylian Mbappe dan Neymar

Keduanya memperkuat PSG dan sama-sama hebat. Tidak banyak yang perlu dikatakan soal Neymar, karena ketika performanya sedang bagus bisa dikatakan dialah pemain terbaik ketiga dunia setelah Messi dan Ronaldo.

Dia sudah mencetak 174 gol dan 116 assist dari 266 pertandingan di kompetisi Eropa. Di masa depan, Ballon d’Or mungkin bisa diraihnya asalkan fokus menjaga permainanannya.

Kylian Mbappe dan Erling Haaland

Rivalitas keduanya mulai terpercik musim ini, saat Mbappe dan kawan-kawannya di PSG meledek selebrasi gol Erling Haaland, usai menyingkirkan Borussia Dortmund dari Liga Champions.

Haaland memang sedang naik daun menyusul ketajamannya di Bundesliga dan Liga Champions. Musim ini mampu membukukan 40 gol, 10 di antaranya tercetak di panggung Liga Champions.

Dia bahkan sudah mengalahkan Mbappe dalam soal rekor gol pemain termuda di Liga Champions musim ini.