Masalah perompakan di Somalia telah menarik perhatian dunia internasional dalam beberapa dekade terakhir. Munculnya masalah perompakan merupakan akibat dari konflik sipil berkepanjangan yang terjadi di negara Tanduk Afrika ini.

Disamping itu, alasan kemiskinan dan wilayah perairan yang strategis di Teluk Aden sebagai jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan laut internasional, serta tidak adanya kekuatan angkatan bersenjata dari Negara untuk mengontrol wilayah perairan membuat perompakan yang dilakukan oleh para bajak laut dari Somalia menjadi kian subur diwilayah ini.

Perompakan Somalia dimulai pada sekitar tahun 1950-an, dan mulai berubah kearah pembangunan kegiatan perompakan diakhir tahun 1980-an.

Namun, masalah ini masih dikategorikan sebagai gangguan dalam negeri, sehingga belum mendapat sorotan dari dunia luar. Tindakan perompakan mulai marak terjadi setelah Somalia mengalami pergolakan politik dan perang sipil saat runtuhnya rezim dictator Mohamed Siad Barre pada bulan Januari tahun 1991

Pemerintahan di Somalia terbagi atas beberapa faksi yang mendeklarasikan diri memiliki legitimasi pemerintahan di wilayah oposisi masing-masing.

Diantaranya adalah Puntland di bagian timur laut Somalia dan Somaliland yang berada di wilayah barat laut Somalia serta TFG di bagian selatan Somalia, tepatnya di ibu kota Mogadishu.

Namun satu-satunya representasi pemerintahan yang mendapat klaim resmi oleh dunia internasional dan PBB adalah Transnational Federal Government (TFG). Meskipun pada kenyataannya TFG tidak memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk mengatur Somalia.

Hal ini dikarenakan adanya berbagai kekuatan oposan politik. Serta diperparah oleh aksi teror kelompok Al-Shahab yang terafiliasi dengan Jaringan AL-Qaedah yang mengancam keberlangsungan pemerintahan. Kondisi ini tentunya membuat stabilitas keamanan menjadi sangat rentan, bahkan PBB menetapkan Somalia termasuk dalam daftar“Failed State”.

Data PDB pertahun dari World Bank untuk negara Somalia tahun 2011 diperkirakan hanya sebesar $ 600, dimana 73% penduduk hanya berpenghasilan dibawah $ 2 per hari $3.

Akibatnya, angka kemiskinan, kelaparan, buruknya kesehatan dan jumlah pengungsi yang terus bertambah semakin menambah penderitaan rakyat Somalia. Jutaan pendudukpun terpaksa harus berantung pada suplay bantuan pangan dunia

Pada tahun 2008. Peristiwa-peristiwa tersebut kemudianmenstimulus rakyat Somalia untuk melakukan tindakan kriminalitas berupa pembajakan terhadap kapal-kapal berebendera asing yang melintas di perairan lepas pantai Somalia dan Teluk Aden.

Menurut artikel yang dihimpum Edisi Bonanza88 mengenai kajian tentang Pembajakan di era global terorisme yang di kemukakan oleh Lehr (dosen universitas Andreas Skotlandia) mengatakan bahwa awal mula terbentuknya perompak Somalia muncul dari geng-geng kecil yang berasal dari mantan milisi faksi-faksi yang bertikai dalam perang sipil pada tahun 1990an.

Mereka memulai dengan membentuk kelompok-kelompok relawan penjaga pantai atau mengatasnamakan diri sebagai marinir Somalia untuk melindungi perairan terhadap kapal pukat asing yang beroprasi diwilayah perairan Somalia.

Seperti diketahui, perairan Somalia memiliki garis pantai terluas di Afrika yang merupakan tempat bagi stok ikan dunia yang benar-benar “underfished”.

Potensi perikanan Somalia merupakan salah satu yang terbaik di dunia dimana berbagai spesies ikan tuna, ikan todak, hiu, marlin dan termasuk lobster menjadi komoditas yang menarik kapal-kapal asing penangkap ikan terutama Jepang, Spanyol, Yaman, Korea, India, Pakistan dan italia untuk mendatangi wilayah ini.

Laporan lain dari Ocean Training and Promotion (OTP) mengatakan sejak tahun 1991 lebih dari 200 kapal asing terlibat dalam illegal fishing dimana setiap kapal hanya dalam kurun waktu 75 hari dapat menjaring ikan hingga 420 ton dengan nilai 6,3 juta dollar.

Kegiatan penangkapan ikan oleh armada kapal asing yang dilakukan secara Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) diperkirakan menimbulkan kerugian antara $ 4-9 juta setiap tahun.

Tanpa adanya otoritas yang efektif atas wilayah perairan Somalia, armada kapal asing telah menguasai 3,300km wilayah perairan lepas pantai Somalia dengan hasil laut yang melimpah. Diperkirakan setiap tahunnya sekitar 700 kapal internasional secara ilegal beroprasi di teritorial laut Somalia dengan mengeksploitasi spesies bernilai tinggi seperti udang laut dalam, lobster, tuna dan hiu.

Selain illegal fishing terdapat juga praktek dumping limbah industri secara illegal yang dilakukan oleh berbagai kapal berbendera asing. Meskipun belum terdapat data yang valid mengenai jumlah limbah dumping di perariran Somalia, namun berdasarkan hasil penyelidikan dari pemerintah Italia, ditemukan bahwa terdapat sekitar 35 juta ton limbah yang telah dibuang dengan taksiran nilai $ 6.600.000.000.

Murahnya biaya yang dikeluarkan untuk ekspor limbah menjadi alasan rasional bagi perusahan-perusahan asing yang sebagian besar berasal dari Eropa memilih membuang limbah di perairan Somalia.

Laporan lainnya dari UNEP tahun 2006 menyatakan bahwa diperlukan biaya sedikitnya $ 250 per ton untuk membuang limbah di Eropa dibanding biaya sangat murah untuk dumping limbah di Somalia senilai $ 2,50 per ton.

Pendapat lain dari seorang pakar tentang Somalia dari Universitas Afrika Selatan mengungkapkan bahwa para sindikat sebenarnya sudah melakukan kegiatan didarat dengan mendirikan pos-pos penjagaan untuk meminta pungutan kepada setiap kendaraan yang lewat. Namun hal itu kemudian mengarahkan mereka untuk beroprasi kelaut yang dianggap menawarkan omset yang lebih besar.

Mereka kemudian merekrut para nelayan yang memiliki perahu dan terbiasa melaut untuk merompak kapal-kapal asing yang melintas diperairan lepas pantai Somalia dan Teluk Aden.

Dalam melaksanakan aksinya, para perompak Somalia yang berasal dari para mantan milisi, nelayan lokal dan pemuda-pemuda pengangguran turun kelaut untuk meminta pungutan dari sejumlah kapal yang ditengarai melakukan aksi penangkapan ikan secara illegal dan pembuangan limbah di sekitar perairan Somalia.

Seiring dengan kegiatan mereka yang terus merompak kapal-kapal pukat dan pembuang limbah yang melintas untuk dikenai pungutan denda, para perompak kemudian menjadi semakin terbiasa untuk melakukan aksinya.

Hal ini disebabkan para pemilik kapal yang ditangkap juga mempermudah aksi perompakan dengan memilih membayar denda agar kegiatan eksploitasi mereka tidak mendapat masalah hukum dan perhatian internasional.

Akibatnya, kegiatan perompak ini terus berkembang dimana upaya meminta pungutan kemudian berubah menjadi aksi penyanderaan terhadap awak kapal untuk kemudian meminta tebusan pada perusahaan pemilik kapal dengan nominal tinggi dengan mengancam kesalamatan sandera agar tuntutannya dapat terpenuhi.

Bahkan dalam beberapa kasus tak jarang para perompak melukai dan menimbulkan korban jiwa pada sandera yang ditangkap ketika proses negosiasi berlangsung lama dan tidak berjalan baik.

Sebahagian hasil keuntungan dari uang tebusan aksi perompakan kemudian digunakan lagi untuk mendapatkan peralatan pendukung yang lebih mumpuni berupa perahu cepat, senjata api, alat komunikasi dan peralatan pendeteksi kapal yang cukup canggih sehingga memungkinkan intensitas tindakan perompakan menjadi semakin massif dan dalam jangkauan serangan yang lebih luas.

Kelompok Bajak Laut Somalia

Lama Tak Terdengar, Bajak Laut Somalia Serang Tanker Sri Lanka

Para perompak ini terbagi dalam dua jaringan perompak. Salah satu jaringan terbesar terdapat di Putland yang merupakan suatu wilayah baru lepasan Negara Djibouti.Sedangkan jaringan lainnya ada di Mudug bagian selatan Somalia. Dikawasan Puntland para perompak terbagi dalam beberapa kawanan dimana kelompok utama bermarkas di Distrik Eyl.

Kelompok-kelompok kecil perompak Puntland terbagi-bagi ke wilayah Bossaso, Quandala, Caluula, Bargaal, dan Garacad. Bahkan desa-desa kecil seperti Hobyo dan Haradheere juga menjadi pusat gerakan perompakan karena lokasinya yang strategis untuk melaksanakan perompakan di perairan Teluk Aden dan lepas pantai Somalia9.

Berikut setidaknya ada 4 daftar kelompok perompak yang dikenal aktif melaksanakan tindakan perompakan di sekitar perairan Teluk aden dan Somalia serta wilayah Samudra Hindia:

Somalian Marinir

yang berbasis di Somalia tengah, kelompok ini telah mempelopori penggunaan kapal induk dalam menjalankan aksi perompakan. Kapal induk digunakan sebagai markas terapung dan pusat kordinasi untuk penyerangan kapal-kapal boat.

Kelompok Kismayu (National Volunteer Coastguard)

Dari Kismayu di Somalia selatan, kelompok ini memfokuskan serangannya pada perahu-perahu kecil di perairan yang dekat dengan pantai.

Marka Grup yang beroprasi di wilayah selatan Mogadishu sampai Kismayo. Kelompok kecil ini menggunakan jenis kapal kecil seperti kapal penangkap ikan dengan menjaga jarak tetap dekat dengan kapal target.

The Puntland Group yang beroprasi dari sebuah desa kecil di dekat Bossaso yang terdiri dari kelompok nelayan tradisional sekitar wilayah Puntland. Kelompok ini dikenal kerap memodifikasi jenis kapal-penangkap ikan untuk digunakan merompak dan menyita kapal sandera untuk kemudian dioprasikan lagi mencari target selanjutnya.

Semakin berkembangnya perompakan di Somalia menjadi bisnis dengan keuntungan yang besar dan membuat sindikat-sindikat kriminal internasional turut serta dalam jaringan ini. Dalam salah satu study PBB mengenai penyelundupan senjata api di Afrika, ditemukan bahwa suplay senjata dan pendanaan diperoleh dari para kelompok pebisnis gelap dan kelompok oposan di Somalia sendiri.

Selain itu, terdapat laporan kerjasama antara para pejabat yang korup dengan perompak untuk menyediakan perlindungan dalam menggunakan fasilitas pelabuhan di daerah-daerah tertentu untuk kemudian dijadikan tempat penyanderaan kapal dan menjalankan proses negoisasi pada pemilik perusahaan pemilik kapal.

Ada juga dugaan yang mengungkapkan para ekspatriat Somalia yang bermukin di Kenya, Arab Saudi dan sejumlah negara di sekitar Teluk lainnya menyediakan informasi mengenai kapal-kapal yang melintas diperairan Teluk Aden yang akan menjadi target perompakan.

Sebagai catatan, banyak perompak menggunakan nama samaran dan beberapa perompak dipersenjatai kelompok teroris. Adapun lokasi yang sering digunakan oleh para perompak terbagi dalam beberapa titik rawan, diantaranya adalah, Gulf Aden Attack Zone (masuk Somali Land). Lokasinya di dalam areal Teluk Aden berbatasan dengan Yaman. Lebar areal rata-rata 50 mil dan panjang 100 mil. Kapal yang dirampas di daerah ini akan di bawa ke kota Pelabuhan Bosaso.

Mongadishu Attack Zone (masuk Puntland). Areal mereka adalah Puntland. Daerah kekuasaan berada antara 100 mil – 600 mil dari perbatasan Kenya hingga ke arah Timur perairan Somalia atau menuju ke arah Teluk Aden. Kapal yang ditangkap akan disandarkan di pelabuhan Mongadishu dan awaknya di sandera ke lokasi yang rahasia di dekat pelabuhan Mongadishu.

Somalia Stay Away Zone. Lokasinya berada di pantai Somalia. Areal antara 170 – 300 mil dari lepas pantai Somalia bagian Utara.

Eyl Ransome Zone (masuk Puntland). Ini adalah lokasi paling berbahaya diantara sejumlah lokasi. Lokasi ini menjadi pusat logistik dan informasi bagi para perompak yang bertugas menyerang kapal yang dilaporkan oleh pemberi informasi.

Hobyo Ransom Zone (masuk Puntland). Lokasinya dekat kota Pelabuhan Hobyo dan Mudug di perairan Somalia selebar 50 km dan panjang sejauh 600 km dari bibir pantai ke arah Lautan Hindia.

Zona Bosaso. (masuk Somali Land) sebuah kota pelabuhan besar di Somalia. Kota ini paling menyenangkan bagi para perompak sebab wilayah sempit di sekitar pantai Yaman menjadi lahan sangat baik untuk pergerakan cepat merampok kapal yang melintasi wilayah itu12.

Sebenarnya, aksi perompakan yang dilakukan oleh para kelompok bajak laut Somalia ini tidak disetujui oleh para tetua suku mereka. Ditambah lagi penduduk Somalia yang mayoritas menganut agama islam melarang tindakan pencurian. Namun sulitnya lapangan pekerjaan dan situasi ekonomi yang buruk tak banyak memberi pilihan.

Terlebih lagi merompak telah menjadi sesuatu yang menjanjikan bagi para pemuda Somalia. Alasan utama yang paling menarik bagi mereka yaitu tentang mudahnya memperoleh uang. Merompak mendatangkan uang dengan mudah dan dalam jumlah yang besar. Trend ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan aksi perompakan.

Aksi Perampokan di Teluk Aden

Bajak Laut Somalia Akhirnya Membebaskan 3 Sandera Iran Setelah 5 Tahun  Ditahan

Peningkatan aksi perompakan di Teluk Aden telah dimulai sejak tahun 1991 pasca runtuhnya kekuasaan presiden Mohamed Siad Barre. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari kondisi dalam negeri di negara ini yang tidak stabil yang mempengaruhi para rakyatnya untuk melakukan aksi perompakan. Kasus perompakan pertama yang dilakukan oleh 26 perompak dari Somalia terjadi pada kapal Bonsella yang ditawan selama 5 hari di tahun 1994.

Setelah itu segelintir serangan perompakan terhadap kapal-kapal asing yang melintas di Teluk Aden masih terus berlangsung. Namun, aksi perompakan belum menjadi isu yang urgen dan masih bersifat masalah gangguan dalam negeri. Hal ini disebabkan oleh tingkat serangan yang terjadi relatif rendah dan tidak banyak perompak yang mampu mencapai jalur pelayaran utama.

Peningkatan aktivitas perompak di lepas pantai Somalia terjadi dalam perkembangan tidak linear, tetapi terjadi dalam tiga tahap yang terpisah. Faktor ekonomi dan geografis dapat memperlihatkan penjelasan tentang terjadinya peningkatan aktivitas ini selama 2 dekade terakhir.

Akan tetapi, peningkatan masalah perompakan ini terutama diakibatkan oleh ketidakstabilan politik Somalia. Gambaran dari maraknya kasus perompakan dapat dilihat dari analisis 3 fase siklus bajak laut Edwar R.Lucas.

Tahap pertama berlangsungnya aktivitas perompakan Somalia dimulai dari tahun 1990an sampai pertengahan 2000-an. Pada Fase ini tingkat kegiatan perompakan yang dilakukan masih relatif rendah dan terutama terkonsentrasidi Teluk Aden yang memang merupakan jalur strategis perlintasan lalu-lintas pelayaran maritim.

Angka tertinggi serangan dalam periode ini tercatat hanya sekitar 14 serangan dari tahun 1994 hingga 1999. Sedangkan Pada periode antara tahun 2000-2005 jumlah serangan mulai mengalami sedikit peningkatan namun masih belum mengkhawatirkan.

Hal ini mungkin disebabkan karena perompakan masih dilakukan dalam tahap awal atau belum memiliki kekuatan dan sumber daya yang cukup memadai. Selain itu, rendahnya insentif yang diperoleh dibanding dengan resiko yang harus diterima oleh perompak membuat perompakan pada fase pertama tidak menunjukan peningkatan yang signifikan.

Perompakan yang dilakukan sekedar untuk bertahan hidup ditengah kondisi Negara yang terpuruk atau hanya berupaya melindungi sumber daya kelautan yang dieksploitasi oleh kapal-kapal dari Negara lain.