CF Canelas 2010 adalah klub sepak bola profesional asal Portugal yang berbasis di Vila Nova de Gaia, atau tepatnya di wilayah Metropolitan Porto. Saat ini, mereka sedang bersaing di kompetisi kasta ketiga Liga Portugal (Campeonato de Portugal).

Klub ini didirikan pada 6 Februari 1966 silam dengan nama Canelas Gaia Futebol Clube. Pemilihan nama Canelas sendiri memang sengaja diambil, mengingat markas klub tersebut berada di sebuah wilayah Canelas, Vila Nova de Gaia.

Akan tetapi, setelah memasuki musim 2005/06 silam, Canelas Gaia Futebol Clube mengalami masalah finansial. Situasi ini pun membuat manajemen klub memutuskan untuk tidak mengaktifkan agenda klub.

Pada 28 April 2010 silam, klub tersebut kembali didirikan lagi dengan nama FC Canelas 2010. Keputusan ini diambil, menyusul restrukturisasi keuangan dan manajemen klub. Alhasil, klub tersebut pun masih bertahan di kasta bawah Liga Portugal sampai saat ini.

Nama CF Canelas sendiri memang sudah cukup familiar bagi sebagian pecinta si kulit bundar Eropa. Mengingat, tim ini pernah menorehkan gelar liga Porto Divisao de Elite Serie 1 (kasta keempat Liga Portugal) secara kontroversial pada musim 2016/17 lalu.

Keberhasilan mereka dalam memuncaki klasemen akhir Liga 4 Portugal tersebut, membuat CF Canelas berhasil mendapatkan tiket promosi ke Campeonato de Portugal musim berikutnya. Akan tetapi, CF Canelas hanya mampu bertahan semusim, dan kembali turun kasta ke divisi 4 Liga Portugal.

Barulah pada musim 2018/19, CF Canelas berhasil mendapatkan tiket promosi ke Campeonato de Portugal. Sampai saat ini, klub yang identik dengan warna biru putih tersebut pun masih bertahan di kasta ketiga Liga Portugal tersebut.

Secara perlahan, CF Canelas pun mulai mencoba untuk membuktikan kualitasnya di turnamen Portugal. Itu terjadi ketika mereka berhasil lolos ke Taca de Portugal 2019, turnamen sistem gugur utama di sepak bola Portugal. Itu pun menjadi kali pertama CF Canelas tampil di sana sepanjang sejarah klub.

Namun, bukan karena prestasinya CF Canelas mendapatkan ketenaran di persepakbolaan Portugal. Akan tetapi, hal itu tak terlepas dari sejumlah kontroversi yang mereka timbulkan di atas lapangan.

CF Canelas sendiri memang dianggap bukan sebuah klub sepak bola biasa. Karena komposisi pemain klub tersebut bukanlah atlet profesional. Beberapa pihak mengatakan bahwa skuat CF Canelas diisi oleh para preman dan fans garis keras Porto.

Hal itu diungkapkan secara langsug oleh Presiden klub Grijo, Manuel Gomes beberapa waktu lalu. Dirinya mengatakan bahwa sejumlah pemain di kasta keempat Liga Portugal saat itu takut untuk bermain melawan CF Canelas.

“Canelas tidak menghormati aturan, mereka preman, tukang daging dan sebagai pemain kami takut menghadapi mereka,” kata Manuel Gomes seperti dikutip Edisi Bonanza88 dari kantor berita AFP.

Menang Walk Out

Canelas: the most violent football team in the world | Daily Mail Online

CF Canelas adalah salah satu tim di kasta keempat Liga Portugal 2016/17 lalu, yang paling ditakuti para kontestan lain. Ketakutan itu bukan hadir karena kualitas bagus yang dimiliki CF Canelas, akan tetapi karena kebrutalannya di atas lapangan.

Mereka mampu memuncaki klasemen divisi empat dan berhasil keluar sebagai juara liga dengan torehan 24 kemanangan. Rekor kemenangan beruntun mereka dimulai pada akhir Oktober 2016 lalu. CF Canelas secara tiba-tiba tidak bisa berhenti untuk terus meraih poin penuh.

Akan tetapi, kemenangan itu mereka raih dengan cara yang tidak biasa, yakni dengan walk out (WO). Mengingat, hampir semua kontestan divisi 4 Portugal menolak untuk bermain melawan CF Canelas.

Sejumlah klub Liga 4 Portugal saat itu lebih memilih untuk membayar denda daripada harus berhadapan dengan CF Canelas di atas lapangan hijau. Menurut data yang dihimpun oleh Bonanza88, seluruh klub yang memiliki WO bakal mendapatkan denda 750 euro.

Pasalnya, CF Canelas tanpa ragu memperlihatkan permainan yang brutal, dengan menendang, menarik, dan mengancam. Hal itu tentunya membuat para pemain lawan merasa tidak nyaman, dan memilih untuk menghindari CF Canelas.

Aksi brutal CF Canelas pun akhirnya menjadi viral di sejumlah kanal Youtube beberapa tahun lalu. Dalam video tersebut, terlihat jelas bahwa para pemain CF Canelas mengubah pertandingan sepak bola menjadi sebuah olahraga bela diri.

Mereka tanpa ragu melancarkan tendangan tinggi ke dada dan kepala sang lawan dengan sangat berani. Beberapa pemain CF Canelas juga gemar melakukan tekel tanpa bola dan menubruk secara berbahaya dari belakang.

Sejumlah aksi yang diperlihatkan CF Canelas saat menghadapi Padroense itu memang tentunya sangat dihindari oleh para pemain sepak bola. Karena hampir sebagian besar dari mereka masih ingin memiliki masa depan di dunia si kulit bundar, ataupun dunia luar.

Situasi ini membuat Padroense menolak untuk tampil di pertemuan kedua melawan CF Canelas pada kompetisi Liga 4 Portugal 2016/17 lalu. Penolakan itu langsung diumumkan oleh Presiden Padroense, Germano Pinho.

“Pemain Canelas mencari konflik, membuat ancaman, bahkan terhadap wasit,” kata presiden Padroense, Germano Pinho.

Setelah insiden mengerikan di atas lapangan hijau itu membuat beberapa petinggi klub Liga 4 Portugal mengadakan serangkaian pertemuan rahasia. Dalam pertemuan tersebut, hampir seluruh klub memutuskan untuk WO ketika menghadapi CF Canelas.

“Ada paksaan, intimidasi, dan wasit tidak berani menulis laporan yang menyebutkan apa yang sebenarnya terjadi,” kata Manuel Gomes, Presiden Grijo, salah satu tim yang menyerukan boikot. “Masalah ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan sangat serius. Kami telah memutuskan sesuatu harus dilakukan. ”

Tidak hanya perilaku kasar saja yang diperlihatkan oleh para pemain CF Canelas, akan tetapi mereka juga pandai melakukan ancaman kepada wasit dan pemain lawan. Beberapa pemain Canelas memiliki kebiasaan mengancam keselamatan keluarga yang bersangkutan.

Dalam keadaan normal, ancaman semacam itu mungkin dipandang sebagai gertakan sambal, akan tetapi tidak dengan Canelas. Pasalnya, klub ini memang diisi oleh Super Dragons (ultras FC Porto) yang sangat ditakuti masyarakat Portugal, di mana kapten tim CF Canelas, Fernando Madureira, sebagai pemimpinnya.

Mayoritas rekan satu timnya di Canelas juga memegang jabatan di jajaran tertinggi ultras. Kata-kata mereka, dan terutama ancaman mereka, memiliki bobot yang tidak menyenangkan bagi wasit dan pemain lawan.

Salah satu sumber anonim liga tersebut juga mengatakan hal serupa, tentang aksi brutal dan ancaman yang tak ragu dilayangkan oleh CF Canelas.

“Ada iklim teror di lapangan dan di tribun. Mereka menang atas dasar ancaman dan agresi terhadap pemain berusia 20 tahun di depan wasit dan polisi yang tidak melakukan apa pun untuk mencegahnya,” ucap sumber itu, dikutip Bonanza88 dari latetackelmagazine.com.

Menghajar Wasit

Brutal, Striker Klub Portugal Tendang Wasit Hingga Terkapar - Bola  Liputan6.com

Salah satu pemain CF Canelas, Marco Goncalves sempat menghantam wajah wasit Jose Rodrigues dengan dengkulnya. Hal tersebut terjadi ketika ia tak terima dengan keputusan sang pengadil lapangan, yang memberikan ganjaran kartu merah kepada dirinya.

Melihat situasi memanas di atas lapangan hijau, sejumlah polisi pun berlari ke dalam untuk membawa Marco Goncalves. Menurut laporan SkySport beberapa tahun lalu, Marco Goncalves harus menghadapi persidangan.

Insiden itu terjadi ketika CF Canelas harus berhadapan dengan Rio Tinto di lanjutan kompetisi Liga 4 Portugal 2016/17 lalu. Pada laga itu juga, Goncalves harus mengakhiri kariernya bersama CF Canelas.

Karena, presiden klub, Bruno Canastro memberikan sanksi berat kepada Marco Goncalves usai insiden memalukan itu.

“klub sangat mengutuk sikap ceroboh Marco Goncalves. Ia (Marco Goncalves) tidak akan pernah memakai kaos Canelas FC 2010 lagi. Kami ingin menunjukkan dukungan penuh kami untuk wasit Jose Rodrigues dan keluarganya dan berharap dia cepat sembuh,” kata Bruno Canastro tentang insiden tersebut.

Sang pemain juga nyatanya mendapatkan hukuman berat dari asosiasi sepak bola Portugal. Dirinya diketahui harus absen dari dunia si kulit bundar selama kurang lebih empat tahun.

“Marco Goncalves telah diberi skorsing empat tahun karena menyerang seorang wasit, dua bulan karena penghinaan dan ancaman, dan tiga bulan karena menyerang pemain lawan,” kata juru bicara liga regional Porto kepada AFP.

Menanggapi insiden tersebut, Marco Goncalves pun akhirnya buka suara. Sang pemain mengatakan bahwa dirinya tidak ingat telah melakukan kekerasan terhadap pengadil lapangan pada laga antara CF Canelas vs Rio Tinto.

“Saya tidak ingat memukulnya, dia mendorong di sini dan mendorong di sana. ‘Anda [reporter] mengatakan bahwa itu adalah lutut, mungkin memang demikian,” kata Gonçalves kepada wartawan setelah pertandingan.

Lebih lanjut, Marco Goncalves pun akhirnya secara terbuka melayangkan permohonan maafnya kepada sang pengadil lapangan, dan sejumlah masyarakat pecinta sepak bola Portugal. “Jika itu masalahnya, saya benar-benar ingin meminta maaf kepada wasit, keluarganya, rakyat Portugal dan Rio Tinto.”

Insiden tersebut pun membuat pertandingan antara CF Canelas vs Rio Tinto harus berhenti sejenak, sekiranya dua menit. Jose Rodrigues pun dikabarkan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan dugaan patah tulang hidung.

Mengaku Fair Play

Canelas 2010: Meet The Most Violent And Notorious Football Team On The  Planet

Melihat banyaknya keluhan dari berbagai pihak tentang perilaku brutal CF Canelas, Madureira pun meyanggah hal tersebut. Menurut sang kapten, timnya bermain tangguh tapi tetap adil atau fair play.

“Kami adalah tim agresif yang bermain dengan semangat. Tapi tidak ada yang menginjak lapangan dengan senjata atau tongkat,” kata Madureira, sambil berbaring di meja pijat sebelum pertandingan kandang melawan Candal, tim pertama yang setuju untuk memainkan laga kontra Canelas.

“Awalnya kami hanya ingin mencetak beberapa poin, sekarang kami ingin dipromosikan karena tidak ada yang mau bermain melawan kami,” kata pria berusia 41 tahun itu, seperti dilansir  dari situs besoccer.com.

Sebelumnya, Madureira sempat meminta para pemain lawan untuk datang ke stadion untuk memainkan pertandingan. Lebih lanjut, ia menganggap bahwa sepak bola amatir seperti ini memang terkenal dengan permainan fisik yang keras.

“Lawan kami mengeluh tentang gaya permainan yang sulit… sepengetahuan saya, sepak bola distrik selalu dikenal keras, tangguh, karena ada kontak fisik yang hebat. Kami tidak seburuk pikiran mereka.”

“Saya mengimbau para pemain dari tim lain yang datang untuk bermain, karena inilah sepak bola dan kami seperti Anda: kami memiliki dua kaki dan dua lengan. Jangan terlibat dalam kontroversi politik,” ujr Madureira, dikutip Edisi Bonanza88 dari latetackemagazine.com.

Presiden Candal, Alberto Ribeiro pun juga turut memberikan pembelaan kepada CF Canelas. Menurutnya, aksi para pemain CF Canelas itu tidak terlalu berbahaya. Bahkan, para pemain CF Canelas dengan hangat menyapa para pemain Candal sebelum bertanding.

“Gagasan tentang kehilangan tidak pernah terlintas dalam pikiran kami. Mereka tidak lebih kejam dari yang lain,” kata presiden Candal Alberto Ribeiro.

Sementara itu, Presiden CF Canelas, Bruno Canastro, juga akhirnya buka suara terkait masalah ini. Dirinya menjelaskan bahwa para pemainnya tidak bermain kejam seperti apa yang dipikirkan banyak orang.

“Memiliki ultras di antara kami memperbesar reputasi kami sebagai tim yang kejam, padahal tidak demikian,” tambah presiden Canelas, Bruno Canastro.

“Dalam gambar di YouTube, Anda hanya melihat dua atau tiga pemain kehilangan ketenangan mereka. Masalah besar dibuat dalam lima menit dari satu musim penuh. Tapi ada keuntungan dari semua ini. Canelas di satu-satunya klub amatir di Portugal, mungkin di dunia, dengan reputasi global,” tutupnya.