Coca-cola pertama kali diciptakan oleh John Stith Pemberton yang merupakan seorang ahli farmasi di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Pada Mei 1886 Pemberton membuat sirup caramel berwarna dalam sebuah ketel kuningan dikebun belakang rumahnya. Pemberton pertama kali “mendistribusikan” produk barunya di Jacobs Pharmacy (Toko Obat Jacob) dengan menempatkan sirup tersebut dalam sebuah teko, dengan harga 5 sen konsumen dapat menikmati segelas minuman baru tersebut di Jacob Pharmacy.

Air berkarbonasi bercampur dengan sirup karamel baru tersebut, yang kemudian dikenal sebagai minuman yang “Nikmat dan Menyegarkan” bernama Coca-Cola. Pemberton mempromosikan produknya dengan membagi ribuan kupon yang dapat ditukarkan dengan satu minuman cuma-cuma. Karena dijual di Jacobs Pharmacy, Coca-cola dipercaya dapat menyembuhkan sakit kepala dan flu.

Rekan kerja dan pengurus keuangan bisnis Dr. Pemberton, Frank M. Robinson kemudian menyarankan untuk memakai nama dan tulisan “Coca-Cola” dengan huruf miring mengalir yang sekarang menjasi terkenal diseluruh dunia. Mr. Robinson berpikir bahwa dua huruf “C” akan terlihat bagus dalam iklan.

Pada tahun pertama, Dr. Pemberton menjual 25 galon sirup yang diangkut dalam tong kayu berwarna merah menyala. Warna merah kemudian menjadi warna khusus yang dihubungkan dengan merek minuman nomor satu ini. Sebagai hasil usahanya, Dr. Pemberton memperoleh keuntungan kotor sebesar $50 dan menghabiskan $73.96 untuk iklan.

Pada tahun 1891, seorang pengusaha Atlanta bernama Asa G. Chandler mengambil alih kepemilikan penuh atas bisnis Coca-Cola. Dalam empat tahun bakat dagangnya telah berhasil memperluas konsumsi Coca-Cola disetiap negara bagian dan wilayah Amerika.

Pada tahun 1919, The Coca-Cola Company dijual pada kelompok investor dengan harga 25 juta dolar. Robert W. Woodruff diangkat menjadi Presiden The Coca-Cola Company pada tahun 1923, dan kepemimpinannya selama lebih dari enam dekade telah membawa bisnis Coca-Cola mencapai sukses dagang yang produknya terkenal diseluruh dunia.

Coca-Cola Pertama

Coca-Cola Logo Evolution — Famous Logo History | by The Logo Creative™ ✏ |  Medium

Coca-Cola pertama kali dikenal sebagai produk yang dijual ditempat-tempat penjualan minuman dengan sistem “fountain” (mesin kran). Seorang pedagang permen, Joseph A. Biedenharn dari Missisipi kemudian mencari cara untuk dapat menghidangkan minuman menyegarkan ini untuk piknik, dan mulai menawarkan Coca-Cola yang dikemas dalam botol, dengan menggunakan sirup yang dikirim dari Atlanta selama musim semi yang sibuk pada tahun 1894.

Pada tahun 1899, proses pembotolan Coca-Cola berskala besar dimulai, pemilik The Coca-Cola Company, Asa G. Chandler memberikan hak pembotolan eksklusif kepada Joseph B. Whitehead dan Benjamin F. Thomas dari Chattanooga, Tennessee. Kontrak ini menandai dimulainya sistem pembotolan yang unik dan independen dari The Coca-Cola Company, dan merupakan dasar pengoperasian Perseroan Minuman Ringan tersebut hingga kini.

Keberhasilan pemasaran Coca-Cola telah membuat banyak botol soda lain yang meniru Coca-Cola, sehingga konsumen tidak dapat membedakan jika mereka tidak mencicipinya. Untuk memecahkan masalah ini, dibuat botol Coca-Cola yang khusus dengan bentuk kontur botol yang dikenal hingga sekarang diseluruh dunia. Desain ini dibuat oleh The Root Glass Company pada tahun 1915.

Sistem Pembotolan

A Dying Soldier Invented Coca-Cola. This Is How It Happened. | VLOSA

Saat ini produk Coca-Cola telah mencapai konsumen dan pelanggan diseluruh dunia melalui jaringan distribusi yang luas dan terdiri dari perusahaan-perusahaan pembotolan lokal. Perusahaan-perusahaan pembotolan tersebut berada diseluruh dunia dan kebanyakan merupakan bisnis yang independen. Perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra bisnis Coca-Cola menggunakan sirup dan minuman dasar yang diproduksi oleh The Coca-Cola Company dan kemudian mengemasnya dalam botol untuk dipasarkan ke lebih dari 14 juta pelanggan diseluruh dunia.

The Coca-Cola Company memiliki komitmen untuk membantu para mitra pembotolannya untuk melaksanakan sistem pembotolan yang efisien. Pengendalian kualitas pemeriksaan secara teratur oleh perusahaan terus dilakukan untuk menghasilkan minuman ringan berkualitas tinggi.

Merek dagang “Coca-Cola” adalah aset yang paling bernilai bagi The Coca-Cola Company. Merek dagang Coca-Cola didaftarkan dikantor Hak Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat pada tahun 1893. Kemudian diikuti dengan merek “ Coke” pada tahun 1942. Botol dengan bentuk unik dan mudah dikenali oleh para konsumen telah diakui sebagai merek dagang oleh Kantor Hak Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat pada tahun 1977. Pengakuan registrasi ini merupakan penghargaan khusus yang hanya diberikan pada kemasan-kemasan tertentu.

Pada tahun 1982, The Coca-Cola Company memperkenalkan “Diet Coke” kepada konsumen USA, yang menandai dimulainya perluasan merek dagangnya. Tahun selanjutnya perusahaan melihat perlunya mengenalkan produk-produk tambahan yang menunjang nama Coca-Cola.

Saat ini, Coca-Cola merupakan minuman ringan yang paling digemari diseluruh dunia, juga merupakan merek dagang yang paling dikenal dan paling dikagumi diseluruh dunia, dikenal oleh lebih 90% penduduk dunia.

Produk Minuman Ringan

History Of Coca Cola

The Coca-Cola Company memperhatikan keinginan konsumen yang berbeda di masing-masing negara dimana perusahaan beroperasi, dengan menciptakan dan memperkenalkan produk-produk baru. Melengkapai Coca-Cola klasik – minuman ringan nomor satu dunia – ada serangkaian produk dari The Coca-Cola Company yang diluncurkan unruk memenuhi setiap selera. Berikut ini diantaranya:

Diet Coke: Diperkenalkan pada tahun 1982, merupakan Coca-Cola Diet nomor satu di USA dan seluruh dunia; oleh Advertising Age digelari sebagai “Brand of Decade” pada tahun 1990, di Indonesia diluncurkan pada tahun 1986.

Sprite: Diperkenalkan pada tahun 1961, masuk kategori minuman ringan dengan penjualan terbaik nomor lima di dunia, di Indonesia diluncurkan pada tahun 1975 dan hingga saat ini telah menjadi minuman ringan dengan penjualan tertinggi diantara kelompok produk Coca-Cola di Indonesia.

Fanta: Dikembangkan di Eropa selama perang dunia II, merupakan minman ringan dengan penjualan terbaik nomor empat diseluruh dunia, diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1973 dan sekarang menjadi salah satu minuman favorit remaja Indonesia.

Fanta dan Tentara Nazi

Was Fanta really created for Nazi Germany? - Esquire Middle East

Data yang dihimpun Edisi Bonanza88, sejak diproduksi pada pertengahan 1950-an, Fanta menjadi salah satu minuman paling populer di dunia, termasuk di Indonesia hingga kini. Fanta dijual di lebih dari 100 negara dan tersedia dalam lebih dari 90 rasa. Di Jepang, bahkan terdapat berbagai rasa unik seperti buah pinus, Vitamin-C Smash, hingga The Mystery Fruit.

Di dunia, rasa yang paling populer adalah jeruk, sementara di Indonesia Fanta identik dengan minuman soda stroberi. Namun tahukah Anda tentang sejarah pembuatan minuman ini? Rupanya, sejarah ini masih bersinggungan dengan partai Nazi di Jerman pada era 1920 hingga 1945.

Aslinya, Fanta ditemukan pada awal 1940-an saat diperkenalkan Nazi sebagai pengganti Coca-Cola. The Coca-Cola Company sendiri membuka cabang di Jerman pada 1929. Minuman tersebut langsung menggebrak dan menjadi minuman non-alkohol terlaris di Jerman.

Berbagai iklan dan promosi Coca-Cola dapat dijumpai di setiap sudut Jerman dan bahkan menjadi sponsor resmi Olimpiade 1936. Lambang swastika saat itu berdampingan dengan logo Coca-Cola dalam spanduk-spanduk yang beredar.

Namun setelah Perang Dunia II meletus pada 1939, Jerman kebingungan karena pasokan bahan sirup untuk membuat Coca-Cola berkurang dari Amerika Serikat. Pada akhirnya, cabang di Jerman diputus oleh kantor pusat dan tak bisa memproduksi minuman itu lagi.

Kepala cabang Jerman, Max Keith, akhirnya mendapat solusi untuk membuat minuman pengganti. Ia pun membuatnya dari bahan-bahan sisa seperti serat apel dan whey, sejenis olahan dari susu sapi. Uniknya, Max Keith bisa melewati larangan impor gula dan membuat Fanta menjadi produk paling manis dan langsung saja jadi favorit warga Jerman.

Nama Fanta sendiri datang dari hasil rembukan Max Keith dan tim penjualan Coca-Cola. Seorang sales bernama Joe Knipp mengusulkan nama tersebut dari kata “Fantastisch” atau fantastis.

Keith lantas membuat perayaan ulang tahun perusahaan Coca-Cola GmbH yang kesepuluh dengan memerintahkan penghormatan ala Nazi (Sieg-Heil) secara massal untuk menghormati Adolf Hitler pada ulang tahunnya yang ke-50. Ia menyebutnya sebagai kenangan akan kekagumannya terhadap sang Fuhrer.

“Anda tak bisa berbisnis di bawah pemerintahan Jerman Nazi kecuali Anda berkolaborasi dengan mereka. Namun Keith bukanlah anggota partai Nazi. Kesetiaannya pada Coca-Cola, bukan Hitler,” tutur Mark Pendergrast, pengarang buku For God, Country, and Coca-Cola.

Setelah perang usai, cabang Jerman dan Belanda kembali bergabung dengan pusatnya di AS. Produksi Coca-Cola dilanjutkan meski Fanta dihentikan pembuatannya.

Namun pada awal 1950-an, Pepsi Corporation membuat sejumlah minuman soda rasa buah. Coca-Cola Company akhirnya menyaingi produk tersebut dengan kembali menghidupkan Fanta dan dirilis pada 1955.

Coca Cola dan Kedekatannya dengan Fasis

How Twitter turned Nazi on Coke's Campaign | Techmystique

Dengan mendekap selimut dan mantel seadanya, sejumlah tawanan perang Jerman turun dengan hati-hati dari tangga kapal. Udara di Pelabuhan Hoboken, New Jersey, Amerika Serikat di awal Januari 1945 itu dingin dan bersalju.

Roman muka muram para tawanan itu seketika berubah kala salah seorang di antara mereka melihat papan iklan di pelabuhan yang sangat familiar buat mereka. Dari kasak-kusuk satu tawanan yang kemudian menyebar, hampir semua takjub dan saling menunjuk ke reklame itu hingga membuat para penjaga keheranan.

“Seorang penjaga berteriak memerintahkan para tawanan untuk tenang dan menuntut penjelasan. Seorang tawanan yang bisa berbahasa Inggris menguraikan, ‘kami terkejut. Bahwa kalian juga punya Coca-Cola di sini’,” tulis Mark Pendergrast dalam For God, Country and Coca-Cola: The Definitive History of the Great American Soft Drink and the Company That Makes It.

Anekdot itu, lanjut Pendergrast, populer di antara para bos minuman soda termashyur itu pasca-Perang Dunia II. Para tawanan itu minim pengetahuan tentang Coca-Cola merupakan produk yang lahir di Amerika.

“Tetapi cerita yang signifikan sesungguhnya hanya bisa dijelaskan melalui konteks Jermannya Hitler. Demi bisa berjaya di Jerman Nazi, waralaba-waralaba Cola mesti mendongkrak kampanye besar-besaran untuk memisahkan diri mereka dari akar yang berbau Amerika,” lanjutnya.

“Sementara soft drink itu menjadi simbol kebebasan Amerika yang selalu jadi dambaan setiap serdadu Amerika yang pergi berperang, logo Coca-Cola yang sama dengan paten bertengger bersebelahan dengan swastika. Kisah Coca-Cola Jerman yang bertahan selama maupun pasca-Perang Dunia II berpusar pada satu sosok sentral –Max Keith, figur yang paling mewakili Coca-Cola sekaligus kolaborator Nazi,” tambah Pendergrast.

Terkenal Berkat Olimpiade

Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi - Historia

Siapa tak meneteskan air liur melihat botol Coca-Cola dingin dengan bulir-bulir air yang menyegarkan? Der Führer Adolf Hitler pun tak kuasa menahannya hingga acap meneguk minuman berkarbonasi itu sambil menonton film Gone with the Wind di bioskop pribadinya. Kisah itu takkan ada jika Coca-Cola tak survive di tengah persaingan keras di masa “gelap” itu.

Lahir di Amerika pada 1886, Coca-Cola hadir di Jerman sejak 1929 atau empat tahun sebelum Hitler menjabat kanselir. Cabang Coca-Cola di Jerman, Coca-Cola GmbH, dibuka ekspatriat Amerika Ray Rivington Powers. Sepeninggal Powers yang wafat pada 1938, Keith meneruskan perjuangan Powers memimpin Coca-Cola Jerman.

Keith dipercaya sebagai tangan kanan Powers sejak 1933. Sebagai manajer pelaksana, Keith tak menyia-nyiakan Olimpiade Berlin 1936 untuk membesarkan brand-nya. Sponsorship Coca-Cola sejak Olimpiade Amsterdam 1928 dilanjutkannya di Berlin dengan menjadi salah satu sponsor utama pesta olahraga terbesar sejagat itu.

“Olahraga menyediakan sebuah kesempatan memperkenalkan Coca-Cola, sebuah cara untuk menyebarkan promosi,” ujar Walter Oppenhoff yang pernah bekerja di bagian legal Coca-Cola GmbH, dikutip Jeff Schutts dalam “Marketing Coca-Cola in Hitler’s Germany” yang dimuat di Selling Modernity: Advertising in Twentieth-Century Germany.

Spanduk-spanduk dan papan reklame Coca-Cola pun bertebaran di Berlin. Topi-topi sun-visor para atlet yang dipakai jelang perlombaan pun disediakan Coca-Cola. Bahkan pita garis finis cabang atletik juga menampilkan logo Coca-Cola.

Namun, komposisi kafein Coca-Cola dimanfaatkan para kompetitornya untuk menjatuhkan Coca-Cola dengan memanfaatkan aturan larangan mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan kafein berlebihan yang tengah digalakkan Jerman.

Akibatnya, Oppenhoff bolak-balik bernegosiasi dengan para birokrat di Kementerian Kesehatan Jerman Nazi. Sementara, Keith meluncurkan kampanye guna menjelaskan bahwa Coca-Cola tak berbahaya untuk kesehatan.

Ide kampanye Keith namun justru dianggap kurang tepat oleh Presiden Coca-Cola Robert Woodruff. “Woodruff yang datang ke Olimpiade merespon: ‘Semestinya jangan pernah melakukan kampanye defensif. Itu sama saja memberi martabat pada saingan-saingan Anda dan memperpanjang isu itu sendiri’,” tulis Schutts.

Nasihat Woodruff membuat Keith mengubah haluan kampanyenya. Ia menyebarkan brosur-brosur Coca-Cola dengan gaya baru, yang menyantumkan informasi tentang fakta-fakta event dan para atlet di Olimpiade.

Sebulan pasca-Olimpiade, pergulatan Coca-Cola dimulai. Hal itu dipicu oleh kebijakan “Four Year Plan” (Rencana Pembangunan Empat Tahun) yang diambil Presiden Reichstag (parlemen Jerman Nazi) Hermann Goering pada September 1936. Kebijakan itu berisi antara lain penghentian ekspor-impor dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing.

“Keith dan Oppenhoff dalam suratnya kepada Kantor Pendapatan Negara berusaha menjelaskan bahwa Coca-Cola GmbH adalah perusahaan bisnis Jerman, walau faktanya sebagian besar masih dimiliki The Coca-Cola Company (di Amerika) dan soal itu, Oppenhoff juga menguraikan bahwa modal dari asing itu sekadar berupa ‘pinjaman’,” sambung Pendergrast.

Kebijakan Goering juga mengakibatkan sulitnya impor bahan baku konsentrat untuk Coca-Cola. Ini membuat Keith kalang kabut. Pasalnya Coca-Cola tengah booming, di mana pada permulaan 1936 mereka sudah bisa menjual satu juta peti Coca-Cola di seluruh pelosok Jerman. Kebijakan Goering membuat Coca-Cola GmbH takkan bisa menjawab permintaan pasar lagi.

“Di sinilah Woodruff turun tangan. Melalui koneksi-koneksinya di perbankan New York, Woodruff bergerak di belakang layar untuk memengaruhi Goering. Ia meminta bantuan Henry Mann, perwakilan Jerman untuk sejumlah bank di Amerika, untuk meyakinkan Goering agar beredia mengizinkan impor konsentrat Coca-Cola,” lanjutnya.

Walau tak sepenuhnya berhasil, Coca-Cola GmbH diizinkan mengimpor “Merchandise No. 5” dan “7X dari sekian bahan konsentrat dari Amerika. Dua bahan inilah yang lantas jadi bahan pokok untuk Keith memproduksi sendiri bahan konsentratnya.

Disukai Hitler

Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi - Historia

Tidak hanya soal negosiasi di bawah tangan dengan Goering yang mesti dilewati Coca-Cola Jerman. Banyak perusahaan soft drink imitasi yang mencoba menjatuhkannya. Salah satunya Afri-Cola, produk minuman serupa Coca-Cola milik Karl Flach. Flach yang juga anggota Deutsche Arbeitsfront (DAF) atau Serikat Buruh Jerman Nazi, menuduh Coca-Cola sebagai perusahaan Yahudi. Segala yang berbau Yahudi haram di Jerman selama di bawah kekuasaan Hitler.

“Pada 1936 Flach bersama para perwakilan DAF bertamu ke Amerika dalam rangka tur ke sejumah perindustrian Amerika. Powers juga mengatur kunjungan mereka ke pabrik Coca-Cola di New York, di mana Flach memerhatikan tutup botolnya terdapat tulisan Ibrani mengindikasikan bahwa Coca-Cola adalah produk kosher (halal versi Yahudi, red.),” ungkap Pendergrast.

Cap kosher di tutup botol Coca-Cola itu dibutuhkan untuk memasarkan produk di antara populasi Yahudi yang besar di New York. Itu kemudian difoto oleh Flach dan digunakan untuk membuat pamflet yang kemudian disebar ke berbagai tempat di Jerman. Seiring dengannya, Flach terus mengkampanyekan Coca-Cola adalah perusahaan Yahudi yang dipimpin Yahudi asal Atlanta, Harold Hirsch.

“Imbasnya grafik penjualan (Coca-Cola) menukik tajam. Markas Partai Nazi buru-buru membatalkan pesanan rutin mereka. Situasi bisnisnya mulai kacau dan Keith memohon Woodruff untuk mencopot Hirsch dari dewan direksi atau setidaknya mengklarifikasi bahwa dia (Hirsch) bukan pemilik perusahaan. Walau kemudian Woodruff mengklarifikasi fakta terakhir itu, kampanye hitam Flach tetap tak terbendung,” tambahnya.

Baru pada 1937 Coca-Cola bisa perlahan bangkit dari keterpurukan. Keith seperti harus memulai dari awal, merelakan sedikit kerugian untuk memproduksi sampel secara massal guna dibagikan gratis di event-event pemuda dan olahraga seperti perlombaan balap sepeda dan parade-parade Hitlerjugend (Pemuda Hitler).

Saat perlombaan sepeda hingga para pemuda (Hitler) berparade dalam formasi militer, truk-truk Coca-Cola selalu mengiringi dengan harapan bisa memancing ketertarikan generasi muda. Ketika Reich Schaffendes Volk menggelar pameran di Düsseldorf pada 1937, Keith mempromosikan berbotol-botol Coca-Cola di spot-spot sentral pamerannya.

“Dalam satu waktu ketika Goering berkunjung hingga rehat sejenak dengan meneguk Coca-Cola, fotografer perusahaan (Coca-Cola) yang awas segera menjepret momen itu. Sementara itu walau tak pernah terdokumentasi, Hitler diketahui juga menyukainya dan senantiasa meminumnya sambil menonton film Gone with the Wind di bioskop pribadinya,” tulis Pendergrast lagi.

Sejak saat itu grafik penjualan Coca-Cola merangkak naik. Seiring Anschluß (pencaplokan Austria, 12 Maret 1938), Keith melebarkan sayapnya dengan membuka Coca-Cola GmbH cabang Wina. Namun kekhawatiran Keith muncul lagi ketika Jerman Nazi menginvasi Polandia pada 1 September 1939, membuat Prancis dan Inggris mendeklarasikan perang sekaligus menandai dimulainya Perang Dunia II. Selain khawatir akan ditutupnya tirai impor untuk konsentrat 7X, Keith cemas akan nasionalisasi perusahaan asing secara sepihak.

Hal itu menjadi latar yang mendorongnya masuk birokrasi pemerintahan Nazi dengan bantuan Oppenhoff. Ia masuk Dinas Properti Musuh untuk mensupervisi semua pabrik minuman ringan, baik di Jerman maupun wilayah-wilayah yang diduduki.

Seiring peperangan, sebagaimana para pebisnis lain, Keith turut berkontribusi dengan mensuplai Coca-Cola sebagai minuman ringan para serdadu Jerman. Minuman berkarbonasi itu jadi pelipur lara para prajurit Jerman di berbagai medan perang, termasuk mereka yang akhirnya ditangkap dan jadi tawanan yang dibawa ke Hoboken.