Masih ingatkah dengan sebuah layar besar membentang di tengah-tengah lapangan dan memutar film-film hits pada masanya? iya, itu yang biasa disebut layar tancap. Kenangan indah layar tancap ini berjaya sekitar tahun 1970-an hingga awal 1990-an.

Sebenarnya awal mula layar tancap muncul pada tahun 1901 hingga 1942. Media ini dipakai Jepang untuk propaganda rakyat Indonesia.

Biasanya layar lebar berwarna putih ini membentang di lapangan, di antara kedua tiang bambu lalu ditancap di tanah. Kemudian sorotan lampu dari proyektor yang menghubungkan gambar dan dapat dinikmati masyarakat hingga dini hari.

Meski pada tahun 60-an di ibu kota juga sudah mulai dibangun bioskop-bioskop komersil yang dinamakan metropole. Namun, menurut sebagian orang tidak dapat terjangkau lantaran harus bayar. Masyarakat khususnya yang minim hiburan seperti di desa lebih memilih menonton layar tancap.

Di masa kejayaannya, menonton layar tancap menjadi ajang pamer dan bergengsi. Apalagi, bagi mereka yang bisa menyuguhkan layar tancap saat hajatan.

Layar tancap ini menjadi tontonan gratis bagi masyarakat. Seperti mirip dengan kelompok organ tunggal yang diundang dalam sebuah hajatan.

Sehingga, layar tancap menjadi hiburan primadona pada masanya. Tak hanya karena hiburan gratis, tetapi juga sebagai ajang kopi darat, berkumpul bersama teman-teman dan juga dapat menikmati jajanan di sekitarnya.

Namun ada sisi negatif dalam pemutaran film layar tancap ini. Sebab semua usia mulai dari anak-anak pun dengan bebas melihatnya, padahal zaman dulu banyak film-film yang kurang pantas ditonton untuk anak di bawah umur.

Oleh karena itu, berdasarkan beberapa sumber yang dihimpun Edisi Bonanza88, pemerintah membuat peraturan Surat Edaran No. 10/SE/DPF-III/1986 lewat Departemen Penerangan. Isi suratnya, terdapat persyaratan bahwa penonton bioskop keliling harus berusia minimal 13 tahun. Namun kini sepertinya layar tancap hanya tinggal kenangan. Tak perlu lagi menancap membentangkan layar ke tanah, karena sudah terpampang layar besar di bioskop.

Layar tancep di Indonesia

Layar Tancap, Riwayatmu Kini - KINCIR.com

Di Indonesia, layar tancap muncul sekitar 1901 dan mulai dijadikan sebuah industri pada tahun 1942-an Pada masa itu, layar tancap dipakai oleh Jepang sebagai media untuk propaganda rakyat Nusantara.

Ya, mengingat layar tancap ukurannya besar dan juga ditonton banyak orang, tentunya hal ini sangat efektif sebagai media buat menanamkan ideologi-ideologi tertentu kepada banyak orang, termasuk bahwa Jepang adalah penyelamat bagi rakyat Nusantara.

Oh ya, layar tancap ini disebut sebagai bioskop keliling. Soalnya, bioskop ini diputar dari satu kota ke kota lain, dan enggak permanen kayak XXI, CGV, atau Cinemaxx yang kita kenal sekarang.

Buat orang zaman dulu, layar tancap udah kayak tur keliling dunianya Westlife atau John Mayer, alias ditunggu-tunggu banget.

Nah, Jawa Enhaii merupakan perusahaan bioskop keliling yang paling laris dan diminati banyak orang. Bahkan, cabangnya ada di lima kota, mulai dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Malang, sampai Surabaya.

Sebenernya, masih ada perusahaan lain yang juga mengoperasikan bioskop keliling itu. Soalnya, udah gratis, bioskop ini juga merupakan satu-satunya hiburan tercanggih.

Jangan bayangin film yang ditonton itu punya efek canggih kayak MCU, ya. Kebanyakan, bahkan merupakan semacam dokumenter, misal, pidato Bung Karno.

Meskipun filmnya mungkin kurang menarik di mata masyarakat modern, penontonnya bisa sampai sepuluh ribuan orang, lho.

Layar tancap dalam bioskop keliling ini jadi primadona banget pada dekade ’60-an sampai ’90-an awal. Bukan cuma Jepang, pemerintahan Orde Baru juga sempat menjadikan bioskop keliling sebagai media propaganda. Contohnya, film Pengkhianatan G30S/PKI (1984) yang mampu membangkitkan mimpi buruk di malam-malam kita.

Pada dekade ‘60-an akhir, sebenernya pemerintah udah getol membangun gedung-gedung bioskop di kota-kota besar. Gedung-gedung ini bahkan memutar film impor, lho.

Sayangnya, di desa-desa masih susah menjangkau hiburan ini. Apalagi, transportasi di masa lalu enggak secanggih zaman sekarang.

Makanya, layar tancap itu laris banget di desa-desa. Bahkan, di tahun 1970-an, laris banget. Lho. Sampai ada layar tancap yang ditonton dari dalam mobil, kayak dalam ending film Ant-Man and the Wasp (2018)

Sisi positif dari bioskop keliling, masyarakat pedesaan bisa dapet hiburan dengan harga yang relatif murah. Oh ya, harga tiket bioskop keliling pada masa-masa itu dibanderol sekitar Rp100 sampai Rp150.

Sedangkan sisi negatifnya, bioskop ini enggak punya filter. Maksudnya, semua orang, mulai dari balita sampai orang dewasa, bebas buat nonton film di sana.

Akhirnya, pemerintah pun bikin peraturan Surat Edaran No. 10/SE/DPF-III/1986 lewat Departemen Penerangan. Dalam surat ini, ada persyaratan bahwa penonton bioskop keliling harus berusia minimal 13 tahun.

Bioskop keliling sukses memutarkan berbagai macam film, mulai dari film Indonesia sampai film-film Barat. Lewat layar tancap, kalian dapat melihat aksi-aksi Barry Prima sampai film-film Rambo.

Hariadi, salah satu pebisnis bioskop keliling yang aktif pada dekade ’70-an sampai dengan ’90-an mengaku bisa meraup untung hingga Rp4 juta sekali pemutaran pada masa kejayaan bioskop keliling, Menurutnya, angka segitu besar sekali. Emas aja, satu gram saat itu sekitar Rp20.000.

Bisa dibilang, Hariadi merupakan pengusaha bioskop layar tancap keliling yang tersohor di Jawa Timur. Dalam satu kali penayangan, penonton yang datang mencapai enam ribu orang.

Usahanya pun terkenal dengan nama Cinedex (Cinema Gedex), “Gedex” dari kata “gedek” alias tripleks. Hariadi bahkan punya bioskop layar tancap di Jalan Soekarno Hatta, Malang pada akhir ‘80-an.

Selain Hariadi, ada pula pengusaha layar tancap lain yang sempat mencicipi manisnya bisnis bioskop keliling. Jamaludin, pengusaha asal Bekasi ini telah merasakan keuntungan besar dari bisnis layar tancap ini di dekade ‘90an awal. Permintaan datang dari kampung-kampung untuk acara hajatan.

Sayang, redupnya bisnis layar tancap ini disebabkan oleh semakin mudahnya bagi masyarakat mendapatkan hiburan. Contohnya, lewat berbagai tayangan televisi yang semakin kaya channel dan gedung bioskop yang makin banyak.

Hariadi mengaku bisnis layar tancap di masa kini memang udah enggak menguntungkan. Namun, dirinya tetep pengin melestarikan bisnis ini supaya anak-anak muda zaman sekarang bisa mempelajari salah satu hal yang jadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.

Itulah yang kemudian mendorongnya untuk membuat Old Cinema Museum di bekas kantor Cinedex. Di museum itu, pengunjung bisa melihat layar, proyektor, sampai pita 35 mm yang dipakai buat memutar film-film di layar tancap.

Kamaluddin, seorang pebisnis layar tancap di Jakarta, masih setia sama hiburan lawas yang satu ini. Dia mengakui zaman sekarang, bisnis ini udah susah dijalankan.

Namun, hal itu enggak bisa menghilangkan kecintaannya pada film dengan pita 35 mm tersebut. Jadi, Kamaluddin masih tetap memutarkan film lewat layar tancap, dan masyarakat di kampung-kampung pinggiran yang jadi pelanggannya.

Kesimpulannya, segala hal pasti bakal berubah kecuali perubahan itu sendiri. Layar tancap tentu akan kalah dibandingkan sama bioskop yang makin canggih.

Bayangin aja, sekarang kita udah bisa menonton film di bioskop dengan format 3D sampai dengan efek 4D yang bikin kita berasa mengalami aksi-aksi di dalam layar. Nonton film di rumah pun juga bisa lewat platform penyedia video streaming kayak Netflix.

Sebenarnya, layar tancap masih bisa kok dipertahankan, setidaknya buat acara-acara khusus seperti festival, bazar, dan lain sebagainya. Memang fungsinya bakal berubah, tapi setidaknya, apa yang pernah jadi bagian sejarah di negara kita enggak hilang.

Sejarah gedung bioskop di Indonesia

Mengenal Talbot, Bioskop Pertama di Indonesia yang Pernah Berkeliling  Kampung | merdeka.com

Bioskop merupakan tempat yang sudah tidak asing lagi untuk dikunjungi oleh semua kalangan. Tapi tahukan Anda, dimana bioskop yang pertama kali berdiri di Indonesia dan film pertama apa yang diputar?

Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900 di Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Untuk karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

Bioskop zaman dulu bermula di sekitar Lapangan Gambir (kini Monas). Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain.

Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.

Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

Bioskop-bioskop lain seperti, Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder, Cinema di Krekot, Astoria, Capitol di Pintu Air, Centraal di Jatinegara, Rialto di Senen dan Tanah Abang, Surya di Tanah Abang, Thalia di Hayam Wuruk, Olimo, Orion di Glodok, Al Hambra di Sawah Besar, Oost Java di Jl. Veteran, Rembrant di Pintu Air, Widjaja di Jalan Tongkol/Pasar Ikan, Rivoli di Kramat, Chatay di jl gunung sahari dan lain-lain merupakan bioskop yang muncul dan ramai dikunjungi setelah periode 1940-an.

Film-film yang diputar di dalam bioskop tempo dulu adalah film gagu alias bisu atau tanpa suara. Biasanya pemutaran di iringi musik orkes, yang ternyata jarang “nyambung” dengan film. Beberapa film yang kala itu yang menjadi favorit masyarakat adalah Fantomas, Zigomar, Tom MIx, Edi Polo, Charlie Caplin, Max Linder, Arsene Lupin, dll.

Di Jakarta pada tahun 1951 diresmikan bioskop Metropole yang berkapasitas 1.700 tempat duduk, berteknologi ventilasi peniup dan penyedot, bertingkat tiga dengan ruang dansa dan kolam renang di lantai paling atas. Pada tahun 1955 bioskop Indra di Yogyakarta mulai mengembangkan kompleks bioskopnya dengan toko dan restoran.

Di Indonesia awal Orde Baru dianggap sebagai masa yang menawarkan kemajuan perbioskopan, baik dalam jumlah produksi film nasional maupun bentuk dan sarana tempat pertunjukan. Kemajuan ini memuncak pada tahun 1990-an. Pada dasawarsa itu produksi film nasional 112 judul.

Sementara sejak tahun 1987 bioskop dengan konsep sinepleks (gedung bioskop dengan lebih dari satu layar) semakin marak. Sinepleks-sinepleks ini biasanya berada di kompleks pertokoan, pusat perbelanjaan, atau mal yang selalu jadi tempat nongkrong anak-anak muda dan kiblat konsumsi terkini masyarakat perkotaan. Di sekitar sinepleks itu tersedia pasar swalayan, restoran cepat saji, pusat mainan, dan macam-macam.

Sinepleks tidak hanya menjamur di kota besar, tetapi juga menerobos kota kecamatan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang memberikan masa bebas pajak dengan cara mengembalikan pajak tontonan kepada “bioskop depan”. Akibatnya, pada tahun 1990 bioskop di Indonesia mencapai puncak kejayaan: 3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987, di seluruh Indonesia terdapat 2.306 layar.

Sementara itu, untuk film yang pertama kali diputar di bioskop Indonesia adalah Film “Loetoeng Kasaroeng”. Sebuah film lokal Indonesia yang diproduksi oleh NV Java Film Company pada tahun 1926.

Sebelumnya, pada Agustus di tahun yang sama, De Locomotif juga telah menulis, “Pemain-pemain pribumi dipilih dengan seksama dari golongan priayi yang berpendidikan. Pengambilan film dilakukan di suatu tempat yang dipilih dengan cermat, kira-kira dua kilometer sebelah barat kota Padalarang”.

Dan pada tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927, untuk pertama kalinya, “Loetoeng Kasaroeng” (film lokal pertama yang menjadi tonggak industri sinema di Indonesia) diputar di Bioskop Majestic, Jalan Braga Bandung.

Bioskop Majestic, pada masanya, dibangun sebagai bagian yang terpisahkan dari kawasan Jalan Braga. Sebuah kawasan belanja bergengsi bagi para meneer Belanda, pemilik perkebunan. Bioskop ini didirikan untuk keperluan memuaskan hasrat para meneer itu akan sarana hiburan, di samping sarana perbelanjaan. Bioskop itu didirikan pada awal dekade tahun 1920-an dan selesai tahun 1925, dengan arsitek Prof. Ir. Wolf Schoemaker.

Seorang arsitek terkenal yang jejak karyanya di Bandung masih berdiri dengan kukuh; sebutlah Gedung Asia-Afrika, Gedung PLN, Masjid Cipaganti, Preanger hingga Gereja Katedral di Jalan Merdeka.

Tentang suasana tontonan di Bioskop Majestic pada periode tahun 1920-an itu, pemutaran film didahului oleh promosi yang menggunakan kereta kuda sewaan. Kereta itu berkeliling kota membawa poster film dan membagikan selebaran. Ketika itu, kedatangan kereta kuda itu sudah menjadi hiburan tersendiri, terutama bagi anak-anak.

Pemutaran film dimulai pukul 19.30 dan 21.00. Sebelum film diputar di pelataran Bioskop Majestic, sebuah orkes musik mini yang disewa pihak pengelola memainkan lagu-lagu gembira untuk menarik perhatian.

Menjelang film akan diputar, orkes mini ini pindah ke dalam bioskop untuk berfungsi sebagai musik latar dari film yang dimainkan. Maklum saja, pada pertengahan tahun 1920-an itu, film masih merupakan film bisu.

Pada masa itu, sopan santun dan etiket menonton sangat dijaga. Di Bioskop Majestic, tempat duduk penonton terbagi dua, antara penonton laki-laki dan perempuan, deret kanan dan kiri. Kegemilangan oriental bioskop terus bertahan hingga masa kemerdekaan.

Namun, memasuki periode 1980-an, kejayaan bioskop yang menjadi bagian dari sejarah kelahiran film Indonesia ini mulai terasa surut. Munculnya konsep yang ditawarkan oleh bioskop cineplex, di mana penonton bisa memilih film yang ingin ditontonannya, adalah salah satu sebabnya.