Sepertinya peribahasa dari mata turun ke hati perlu diubah. Pasalnya, sekelompok peneliti menemukan salah satu dorongan seksual justru datang dari bau ketiak.

Umumnya, orang menganggap ketiak sebagai bagian tubuh yang menjijikan. Bagi perempuan kebanyakan, bahkan bulu ketiak dianggap sebagai bagian tubuh yang memalukan. Hampir setiap perempuan memiliki dorongan untuk mencukur habis bulunya. Selain bulu, bau ketiak juga sering menjadi momok bagi kebanyakan manusia modern.

Bulu dan bau ketiak seringkali menjadi masalah, dan karenanya banyak perusahaan mencoba untuk membuat produk yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Tapi hal ini tidak selamanya demikian. Masalah bulu maupun bau ketiak sama-sama memiliki sejarah yang panjang. Saking panjangnya, seringkali terdapat perubahan-perubahan tren di masyarakat.

Bau Ketiak Justru Masalah Baru

Cara Menghilangkan Ketiak yang Menghitam - Befren

Hari ini kebanyakan orang sudah dapat mengenakan deodoran untuk menghilangkan bau ketiaknya sehari-hari. Masyarakat pun menganggap aroma ketiak yang telah diberi deodoran dapat lebih terima. Mereka yang tidak mengenakan deodoran akan mengeluarkan aroma tubuh yang akan mengganggu orang lain. Bayangkan saja Anda sedang berada di gerbong kereta, berdesakan dengan orang-orang sehabis pulang kerja yang penuh keringat. Membayangkannya saja bisa membuat kita jijik.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, justru kejijikan ini merupakan hal baru. Pasalnya, dalam sejarah justru terdapat banyak masyarakat yang lebih menyukai bau badan alami, dan terkadang bau badan yang lebih menyengat. Untuk membahas bagaimana masyarakat kuno menikmati bau badan, kita perlu juga membahas asal dari bau badan itu sendiri yaitu, keringat yang bercampur bakteri.

“Masalahnya seringkali bakteri yang hidup di kulit kita akan memakan zat-zat yang terkandung dalam keringat kita,” jelas Sarah Everts, seorang juralis kesehatan seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber.

Keringat memberikan banyak zat-zat yang dapat diserap oleh bakteri dan membuat pertumbuhan koloni bakteri di kulit kita semakin subur. Terdapat jenis-jenis lemak yang memang hanya dihasilkan oleh beberapa bagian tubuh kita seperti di ketiak ataupun daerah sekitar kemaluan.

Lemak-lemak ini lah yang menjadi makanan lezat bagi bakteri-bakteri. Setelah menyantap lemak-lemak tadi, bakteri akan mengeluarkan senyawa-senyawa kimia yang memicu bau tidak sedap yang kita kenal sebagai bau badan.

Kehadiran zat-zat ini baru diketahui setelah hadirnya sains modern, terutama pada abad 20. Kalau kita lihat pada peradaban kuno misalnya, masyarakat Mesir Kuno tidak berusaha untuk menghilangkan bau tidak sedap yang ada di tubuh kita.

Masyarakat Mesir Kuno cenderung hanya menutupi aroma tidak sedap dengan aroma lain yang lebih kuat. Mereka akan membuat semacam parfum dari telur burung unta, bunga-bungan, maupun tanaman herbal yang ada di pesisir sungai Nil.

Wewangian ini biasa ditempelkan di kepala, leher dan pergelangan tangan, mirip dengan cara mengenakan parfum bagi masyarakat modern. Selain wewangian yang ditempel, mereka juga membuat minyak wangi yang terbuat dari bunga-bunga, tanaman herbal, maupun lemak hewan.

Wewangian juga seringkali digunakan dalam bentuk dupa, untuk mengharumkan ruangan. Secara umum, masyarakat Mesir mengutamakan wewangian seperti ini hanya untuk menutupi bau badan mereka dan bukan untuk menghilangkannya.

Berbeda dari Mesir, di Yunani dan Romawi masyarakatnya memiliki tradisi yang berbeda. Wewangian menggunakan bumbu dan tanaman herbal merupakan komoditas yang mewah. Hanya segelintir orang yang dapat menggunakannya sehari-hari.

Hal ini dikarenakan sulitnya masyarakat tersebut mendapatkan bahan baku untuk membuat wewangian. Namun, sebelum wewangian dikonsumsi secara lebih umum, masyarakat Kekaisaran Roma sebenarnya sudah memiliki tradisi untuk mandi setiap hari. Setiap mandi, mereka biasa juga memakai minyak wangi yang disimpan dalam botol kecil.

Baru pada abad kelima setelah masehi, wewangian lebih banyak digunakan oleh masyarakat barat sebagai salah satu elemen dalam ritual agama. Selain itu, agama juga seringkali bergesekan dengan status sosial seseorang.

Akhirnya semakin tinggi status sosialnya, maka semakin wangi pula orang itu. Kebiasaan ini utamanya dipengaruhi oleh kehadiran keyakinan Judaisme dan Kristen. Seringkali yang paling wangi yang ditemukan dalam ruang-ruang komunal adalah para pendeta. Para pendeta juga sering terganggu dengan bau ketiak para umat, dan akhirnya memberikan mereka wewangian dari dupa.

Aroma tidak sedap yang menjadi penanda status sosial orang miskin menjadi masalah yang lebih besar pada periode ini. Selama beberapa abad, umat kristen di Eropa menolak wewangian dan bahkan budaya mandi.

Hal ini disebabkan asosiasi wewangian dengan salah satu dari tujuh dosa besar yaitu gengsi atau bangga. Umat dipastikan untuk merasa rendah hati, sehingga aktifitas yang dapat meningkatkan status sosial seseorang dianggap sebagai suatu dosa. Hal ini sebenarnya tidak diharamkan, tapi hanya tidak dianjurkan.

Pada abad yang sama, justru tren yang berbeda ada di umat Islam yang melestarikan tradisi mandi setiap hari. Tradisi mandi, sanitasi, dan wewangian umat Islam lebih mahir dibanding belahan dunia lain pada masa itu. Masyarakat Timur Tengah dikenal telah menemukan teknologi yang dapat mengganti lemak hewani dengan lemak nabati sebagai bahan baku utama sabun.

Hal ini mengakibatkan sabun dan wewangian lainnya jadi jauh lebih terjangkau dan bisa diakses oleh rakyat jelata. Selain itu, penggunaan lemak nabati juga memiliki kelebihan lain. Sabun yang terbuat dari lemak hewani cenderung masih membawa bau hewan asalnya. Misalnya, sabun dibuat dari lemak kambing, maka Anda akan berbau kambing setelah mandi. Tapi Anda tidak akan berbau sayur jika Anda menggunakan sabun dari minyak nabati.

Saking mahirnya budaya sanitasi umat Islam dan masyarakat Timur Tengah secara umum, pada masa Perang Salib budaya ini bahkan diadaptasi oleh musuhnya. Kekaisaran Bizantium yang menduduki Konstantinopel, bahkan mengganti perlengkapan mandinya dengan perlengkapan mandi khas orang Turki. Perlengkapan mandi ini juga akhirnya menjadi komoditas yang diekspor di seluruh jalur dagang Eropa.

Tapi bau badan tidak selalu menandakan status sosial orang. Pada abad ke-13 misalnya, bau badan menjadi salah satu indikator utama bagi orang yang terjangkit wabah. Hal ini tentu saja ditolak oleh sains modern. Namun, bagi masyarakat pada masa itu, bau badan memiliki korelasi yang kuat dengan wabah. Ilmu pengetahuan pada masa itu baru saja memahami bagaimana wabah menyebar. Namun, mereka baru paham satu cara yaitu, penyebaran wabah melalui udara.

Sifat udara yang tidak terlihat, membuat masyarakat pada abad ke-13 membutuhkan suatu indikator. Jadilah mereka menganggap bau badan tak sedap sebagai bentuk virus yang sedang merusak kualitas udara. Pemahaman keliru ini menyebabkan tradisi wewangian yang baru. Masyarakat pada abad tersebut semakin menganggap wewangian sebagai kebutuhan dasar, jauh berbeda pada masa sebelumnya yang menganggap ini sebagai dosa.

Kebutuhan baru ini lalu didukung oleh perkembangan teknologi penyulingan. Setelah teknologi penyulingan, pembuatan wewangian menjadi lebih mudah dan terjangkau. Hal ini dikarenakan wewangian juga dapat dikombinasikan dengan alkohol yang berujung pada produk parfum. Berbeda dari produk wewangian sebelumnya, parfum merupakan wewangian yang lebih stabil dan cepat kering.

Pada masa-masa yang telah dibahas tadi, bau ketiak tetap ada dan hanya ditutupi melalui bau-bau yang lebih menyengat seperti parfum.

Baru pada masa Depresi Besar di 1930, masyarakat barat mulai mempermasalahkan bau badan secara lebih serius. Hal ini sebenarnya merupakan propaganda produk deodoran amerika pada masa itu, Odorono.

Awalnya produk deodoran hanya dijual kepada perempuan. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan perempuan untuk tetap cantik dan sempurna meskipun setiap hari diharapkan menggunakan gaun berlapis-lapis. Keringat basah di ketiak yang tembus ke pakaian dapat menjadi bahan olok-olok bagi seorang perempuan.

Odorono merupakan salah satu brand yang menawarkan produk deodoran sebagai solusi atas masalah perempuan ini. Barulah pada 1930, Odorono mulai menyasar pasar laki-laki.

Ketika masa Depresi Besar, laki-laki Amerika dan Eropa memiliki ketakutan yang tingg dalam konteks profesinya. Odorono lalu menggunakan ketakutan ini sebagai kesempata emas. Mereka membuat kampanye iklan tentang para pekerja yang dipecat karena bau badannya tidak sedap. Konsep iklan ini terbukti laku keras. Dalam setahun, Odorono bisa menghasilkan $65,000 dollar hanya dengan menjual deodoran anti keringat ke Inggris dan Kuba.

Apa Hubungan Bulu Ketiak dan Bau Tak Sedap?

Apakah penyebab ketiak menghitam

Menurut psikolog Breanne Fahs, ketakutan kita akan bulu ketiak perempuan datang karena faktor budaya dan bukan akibat dorongan biologis yang disebabkan oleh evolusi. Hal ini disebabkan dengan adanya anggapan umum yang tercipta setelah mandi menjadi tradisi yang populer di seluruh masyarakat. Ketika mandi, biasanya bagian-bagian tubuh tanpa bulu tidak perlu dibersihkan dengan lebih intens. Bagian tubuh yang berbulu seperti ketiak maupun daerah sekitar kemaluan justru perlu digosok terus menerus karena dapat memicu bau badan.

Hal ini tentu tidak sepenuhnya salah. Namun anggapan keliru menjadi muncul. Orang kerap menganggap bagian yang berbulu pasti berbau tidak sedap. Oleh karena itu bulu ketiak justru dianggap membawa bau tidak sedap, padahal ada ataupun tidaknya bulu tidak akan berpengaruh banyak terhadap bau ketiak seseorang.

Teori lainnya adalah karena banyak budaya yang menganggap bulu sebagai bawaan dari leluhur binatang kita. Budaya-budaya ini menganggap semakin manusia tidak berbulu, maka semakin seseorang tersebut posisinya lebih tinggi dari binatang. Bulu menjadi penanda untuk membedakan status sosial binatang dan manusia.

Namun pada dasarnya, Fahs menganggap ketakutan akan bulu ini datang dari hal lain. Secara fisiologis, bulu ketiak dapat menjadi pengantar dari feronom, atau senyawa yang bertujuan untuk memikat lawan jenis. Senyawa ini seringkali digunakan mamalia untuk bisa bereproduksi dan melanjutkan keturunan mereka.

Ini merupakan kabar baik bagi Anda yang memelihara bulu ketiak atau memiliki bau badan yang menyengat. Dalam riset pada 2001, para psikolog bahkan menemukan bahwa bau badan justru bisa meningkatkan daya tarik seseorang secara signifikan.

Sayangnya, ada hal lain yang membuat kita lebih jijik dengan bulu ketiak maupun bau badan orang lain. Menurut Daniel Kelly, psikolog yang meneliti perasaan jijik, rasa jijik kita terhadap bau badan datang dari norma yang dibentuk selama berabad-abad.

Dalam sejarahnya, wabah dan penyakit seringkali dapat dengan mudah tersebar melalui aktifitas seksual. Akibatnya, masyarakat dalam lintas peradaban menciptakan mekanisme untuk meminimalisir seks. Inilah yang menyebabkan banyaknya norma dan moral di masyarakat yang menentang aktifitas seks bebas.

Bukan hanya seks yang dianggap menjijikan, tapi juga segala hal yang bisa memicu aktifitas seksual. Tiap masyarakat memiliki batasnya sendiri-sendiri, di masyarakat muslim aktifitas seksual misalnya dibatasi melalui pernikahan dan konsep aurat. Sedangkan di masyarakat Eropa dan nasrani, seks dibatasi melalui pernikahan dan pengabdian pada Tuhan.

Di masyarakat modern, salah satu yang membatasi seks adalah dengan menganggap bulu ketiak sebagai hal yang menjijikan, alih-alih sebagai daya tarik yang merangsang. Aktifitas seksual memang merupakan sumber dari banyak aturan yang ada hingga sekarang. Secara tidak sadar kita selalu mengasosiasikan bulu ketiak sebagai penanda seks. Bukan hanya dengan mengetahui sifatnya yang bisa menjadi penghantar feronom. Tetapi juga karena Ia menjadi penanda masa puber, di mana seseorang mulai menyiapkan tubuhnya untuk bereproduksi.