Seorang pembunuh berantai selalu digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan dan bengis. Tapi tidak ada yang membayangkan seorang pembunuh memiliki paras tampan dan mempesona, setidaknya hingga terungkap kasus Ted Bundy.

Ted Bundy adalah seorang pembunuh berantai yang tertangkap setelah menculik, memerkosa, hingga membunuh puluhan gadis di Amerika Serikat. Kasus pembuuhan itu terjadi pada kisaran era 70an.

Setelah tertangkap, Bundy mengakui telah melakukan pembunuhan terhadap 30 jiwa di dalam 7 negara bagian berbeda selama 1974 hingga 1978. Tidak ada yang tahu berapa total korban lainnya, namun banyak yang menduga jumlahnya lebih tinggi dari pengakuan sang pembunuh.

Ia memiliki cara khusus untuk menjalankan aksinya. Sebelum menculik, Bundy biasa berpura-pura sebagai seorang disabilitas yang meminta pertolongan korbannya. Dalam aksinya, Bundy akan mengenakan pakaian yang rapih lengkap dengan mobil VW kodoknya.

Ketika calon korban, biasanya gadis kulit putih usia belasan, datang untuk menolongnya, Bundy akan membuat si korban pingsan dan memasukannya ke dalam mobil.

Modus operandi Bundy terbukti berhasil. Banyak dari korbannya tidak curiga dengan gelagat Bundy. Bundy biasa berpura-pura kesulitan untuk mengangkat barang-barang seperti tumpukan buku maupun barang belanjaan.

Para korban yang masuk ke dalam perangkapnya kemudian dibawa ke hutan maupun lahan kosong di mana mereka akan diperkosa sebelum akhirnya dibunuh dan dibiarkan membusuk di TKP. Setelah jasad korban membusuk, Bundy seringkali datang kembali ke TKP untuk memperkosa jasad para korbannya.

Kisah hidup Bundy seringkali menjadi perhatian para ahli, mulai dari ahli investigasi forensik hingga psikolog. Pasalnya, kisah hidup seorang pelaku pembunuhan berantai seringkali dapat menghadirkan petunjuk untuk memahami motif perilaku tindak kriminal.

Ted Bundy Memiliki Segalanya

Ted Bundy, Pembunuh dan Pemerkosa Paling Sadis, Korbannya Semua Wanita

Ted Bundy, atau Theodore Robert Cowell, lahir di Burlington, Vermont, Amerika Serikat pada 24 November 1946. Ia lahir dari rahim Eleanor Louise Cowell, yang biasa dikenal sebagai Louise. Awalnya Bundy mengenal Louise sebagai kakak perempuannya.

Hal ini dikarenakan Bundy lahir sebagai anak haram Louise dengan pria yang tidak pernah diketahui identitasnya. Menyimpan aib, Louise menyembunyikan identitasnya sebagai ibu kandung kepada anaknya sendiri.

Pada masa kecilnya, Bundy diasuh oleh kakek-neneknya, Samuel dan Eleanor Cowell, di Philadelphia. Samuel dan Eleanor awalnya mengaku sebagai orang tua kandung Bundy. Namun seiring Bundy dewasa, rahasia ini kemudian terungkap setelah Bundy menemukan beragam kejanggalan yang terjadi di keluarganya.

Menurut penulis biografinya, Ann Rule, Bundy baru mengungkap rahasia ini pada 1969 ketika Ia menemukan akta lahir aslinya di Vermont. Hal ini membuat Bundy terpuruk dan kemudian membenci ibu kandungnya.

Meskipun membenci sang ibu, Bundy justru menunjukkan rasa hormat yang tinggi pada kakek dan neneknya. Hal ini cukup janggal, karena menurut pengakuan anggota keluarga yang lain, sang kakek merupakan seseorang yang galak dan kejam.

Samuel dikenal sebagai pribadi yang tempramen dan sering menunjukkan perilaku kekerasan. Hal ini yang diduga-duga menjadi asal muasal perilaku kekerasan yang diturunkan ke si cucu. Bukan hanya tindak kekerasan, beberapa anggota keluarga bahkan mengaku pernah mendapati Samuel berbicara sendiri, entah dengan hantu atau dengan sosok imajinasi.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber, dinamika yang terjadi dalam keluarga Bundy berpengaruh pada kepribadiannya. Ia tumbuh menjadi sosok yang pendiam. Meskipun begitu, Bundy tetap menjadi sosok yang menonjol terutama dalam bidang akademik. Ketika duduk di bangku kuliah di Washington University  pada 1972, Ia dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas.

Perjalanan akademiknya di kuliah Psikologi terbilang lancar dan bersinar. Ini juga yang menyebabkannya populer di kalangan mahasiswi. Salah satu yang kepincut pesona Bundy adalah Stephanie Brooks (merupakan nama samaran dari Diane Edwards). Brooks dikenal sebagai mahasiswi cantik yang berasal dari keluarga kaya.

Bundy bertemu Brooks di tingkat awal perkuliahan. Ketika bertemu dengan Brooks, Bundy langsung kepincut. Menurutnya, Brooks adalah sosok yang selama ini Ia idam-idamkan. “Lengkap dengan pakaian anggun, gadis cantik, yang sangat ramah. Punya mobil bagus dan orang tua yang hebat,” ujar Bundy mengakui bahwa dirinya tidak selevel dengan sang idaman.

Brooks dikatakan sebagai sosok pertama yang menjalani hubungan intim dengan Bundy. Sosok Brooks pun selalu diduga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perjalanan asmara Bundy. Dalam sebuah musim panas, Brooks memutuskan untuk meninggalkan Bundy.

Hal ini dikarenakan pada saat itu, Bundy tidak memiliki ambisi dan rencana karir yang jelas. Selain itu, Brooks juga menyadari ada yang tidak beres dari sang kekasih. Brooks menduga Bundy memiliki kebiasaan untuk memanfaatkan orang lain, dengan cara mendekati seseorang supaya orang tersebut mau membantunya.

Di musim panas yang sama, Bundy juga memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Baru beberapa saat setelah Brooks mengakhiri kisah cintanya, Bundy berubah pikiran dan melanjutkan kuliahnya di universitas lain. Bukan tanpa sebab, hal ini diduga untuk membuktikan pada Brooks bahwa Bundy merupakan sosok pria yang sesuai dengan kriterianya.

Bundy kemudian bekerja dalam tim kampanye pemenangan Gubernur Republikan, Dan Evans. Dalam lingkungan kerja ini, Bundy mendekati beberapa sosok penting partai Republikan, dan memulai hubungan bersama Elizabeth Kloepfer. Pada saat itu, Kloepfer merupakan seorang janda satu anak.

Setelah lulus kuliah di 1972, Bundy mengambil pendidikan lanjutan di bidang hukum. Pada masa ini, Bundy bertemu kembali dengan Brooks. Berbeda dari pertemuan sebelumnya, kini Bundy menjadi sosok pria yang memang sesuai dengan kriteria Brooks.

Brooks yang kembali kepincut, akhirnya memutuskan untuk balikan dengan Bundy. Si pria yang telah menjadi sosok idaman juga kemudian memutuskan hubungannya dengan Kloepfer.  Brooks senang bukan kepalang mendapati Bundy yang kini bahkan terlihat lebih serius untuk beranjak ke jenjang pernikahan. Dalam beberapa kesempatan, Bundy bahkan mengenalkan Brooks kepada kolega dan bosnya sebagai tunangan.

Sedikit Brooks tahu, cinta lama yang bersemi kembali ini hanyalah akal bulus Bundy untuk balas dendam. “Aku hanya ingin membuktikan diri bahwasannya aku bisa saja menikahinya,” ujar Bundy. Perilaku balas dendam Bundy ini menunjukkan betapa besarnya keinginan Bundy untuk membuktikan diri karena tidak terima dengan sakit hati yang Ia rasakan.

Setelah sebulan putus hubungan, Brooks yang masih tidak rela menelepon Bundy untuk menanyakan alasannya memutuskan hubungan. Pertanyaan ini dijawab dengan dingin, “aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.” Setelah perbincangan itu mereka tidak pernah bertemu dan berbincang lagi.

Tercapainya tujuan balas dendam Bundy tidak menyelesaikan masalah jiwa yang dia alami. Justru pada tahun yang sama balas dendam itu tertuntaskan, Bundy juga mulai melancarkan aksi pembunuhannya. Pembalasan dendam ini disebut-sebut sebagai aksi yang melegakan Bundy walau hanya sementara.

Bundy menganggap pembalasan dendam ini akan menyelesaikan masalah jiwanya yang penuh amarah dan kekosongan. Untuk mengisi kekosongan ini, Bundy melampiaskannya pada sosok-sosok perempuan kulit putih berusia belia yang memiliki rambut panjang. Karakteristik yang spesifik ini memunculkan dugaan bahwa Bundy sengaja mengincar para perempuan yang mengingatkannya pada Brooks.

Pembunuhan Demi Pembunuhan

Kisah Ted Bundy, Psikopat Sadis Pengoleksi Potongan Kepala Wanita Cantik -  kumparan.com

Kasus penyerangan pertama Bundy menyasar ke Karen Sparks, seorang mahasiswi University of Washington berusia 18 tahun. Bundy melakukan penyerangan ini dengan cara menerobos masuk ke apartemen Sparks. Di sana Ia lalu memerkosa Sparks dan memukuli si korban. Untungnya, Sparks berhasil selamat meskipun menderita beberapa luka parah di otaknya. Sparks juga tidak ingat sama sekali terkait kejadian yang menimpanya.

Jika Sparks diperkosa dan selamat dari upaya pembunuhan, hal yang berbeda dialami dengan korban kedua. Lynda Ann Healy merupakan korban kedua penyerangan sekaligus korban pembunuhan Bundy yang pertama. Healy juga merupakan mahasiswi University of Washington. Bundy menerobos masuk ke dalam apartemen Healy lalu menculiknya pada 1 Februari 1974. Setelah tertangkap, Bundy baru mengakui perbuatan kejinya ke Healy.

Daftar korban Bundy berlanjut hingga mencapai puluhan. Namun dari karakteristik korban, para peneliti menemukan sebuah pola yang sama. Keseluruhan korban Bundy merupakan gadis belia sekitar umur 20, yang memiliki rambut hitam panjang dengan gaya belah tengah.

Modus operandinya pun memiliki pola yang serupa. Bundy memiliki dua skema penyerangan, yang pertama adalah dengan menerobos masuk ke dalam apartemen targetnya lalu membunuh atau menculik. Sedangkan skema yang kedua adalah dengan berpura-pura menjadi disabilitas yang membutuhkan pertolongan.

Ketika target berusaha menolong, Bundy langsung menyerang si korban hingga tak sadarkan diri, lalu menculik dan membawa korban ke dalam mobil VW kodoknya. Salah satu skema yang lebih jarang Ia terapkan adalah dengan berpura-pura menjadi sosok otoritas dan menginstruksikan korban untuk datang ke sudut yang rentan.

Kekejian yang dilakukan Bundy kepada korban-korbannya ini merupakan sebuah anomali dalam masyarakat. Hal ini juga dijelaskan oleh para psikolog yang meneliti kasus-kasus Bundy. Menurut psikolog Scott A. Bonn, Bundy dapat dimasukan dalam kategori pembunuh yang mengincar kendali atau kuasa.

Klasifikasi ini tidak diartikan bahwa Bundy membunuh untuk mendapatkan suatu bentuk kekuasaan, melainkan pembunuhan yang dilakukan Bundy ditujukan untuk mencapai suatu perasaan berkuasa yang semu. Motif utama pembunuh dalam kategori ini adalah untuk bisa mendominasi para korbannya. Bundy misalnya, mendapat kenikmatan ketika menyiksa si mangsa. Tidak hanya kenikmatan biasa, Bundy bahkan terangsang ketika menyiksa korban-korbannya. Beberapa kali Bundy bahkan memerkosa jasad korban.

Bonn juga menemukan hal ini dari kebiasaan Bundy yang seringkali menyiksa para korban secara perlahan. Menurut Bonn, Bundy merupakan pembunuh yang tenang dan sabar. Sebagai pembunuh, Bundy bisa menikmati keseluruhan proses aksinya, dari pemasangan jebakan, penyerangan awal, penculikan, penyiksaan dan pemerkosaan, hingga pembunuhan. Hal ini bahkan diakui oleh Bundy sendiri, “fantasi yang dibawa dan muncul dari antisipasi penyerangan ini selalu lebih menyenangkan ketimbang aksi penyerangannya.”

Bundy juga memiliki kebiasaan aneh yang menekankan posisinya sebagai pembunuh pengincar kuasa. Misalnya dengan kebiasaan menyimpan barang-barang korban sebagai penghargaan pribadi. Bundy biasa mengambil perhiasan yang dimiliki korban dan memberikannya pada teman-teman perempuannya.

Hal ini sengaja dilakukan Bundy bukan untuk menghilangkan bukti-bukti kasusnya, melainkan untuk kenikmatan pribadi. Ketika temannya mengenakan perhiasan korban, Bundy jadi bisa membayangkan temannya sebagai si korban. Hal ini membawa kebanggaan tersendiri bagi Bundy. “Andai saja mereka tahu kalau perhiasaan itu milik korban yang ku bunuh,” ujar Bundy dengan ceria.

Psikolog lain juga menempatkan Bundy dalam kategori psikopat. Mereka menemukan kesamaan sifat antara Bundy dan karakteristik psikopatik yang telah ditemukan para peneliti terdahulu. Kepribadian Bundy yang ulet dan mau menghalalkan segala cara untuk kenikmatan pribadinya sangat membuktikan hal ini.

Misalnya ketika Bundy dengan tenang membalaskan dendamnya pada Brooks hanya untuk membuktikan diri. Selain itu pembunuhan-pembunuhan yang Ia lakukan juga tidak memberinya rasa bersalah sedikit pun. Kedua hal ini lalu ditambah juga dengan perawakannya yang tampan dan mempesona, cerdas dan lihai bersosialisasi, menjadikannya sebagai mesin pembunuh yang ulung. Tidak heran sosoknya menjadi legenda dan menelurkan banyak film dan pembahasan bahkan di kemudian hari.