Idi Amin lahir sekitar tahun 1924-1928 di Koboko, distrik Nil Barat terkecil di Uganda, negeri kecil yang subur di tepi Danau Victoria, mata cairan sungai Nil. Ayahnya, Andreas Nyabire, dari Suku Kakwa, ibunya dari Suku Lugbara, dua suku yang bertetangga. Akan tetapi, begitu Idi Amin lahir, kedua orangtanya langsung berpisah, Idi Amin bukanlah nama aslinya, pada tahun 1910 ia dijadikan mualaf dan mengganti namanya dijadikan Idi Amin.

Ibu Amin langsung memboyongnya ke koloni Suku Nubia di Lugazi kurang lebih 40 km dari Jinja, sebuah kota akbar di tepi Danau Victoria, di mana banyak orang Nil Barat yang dijadikan buruh perkebunan gula. Tidak jelas apakah keluarga Idi Amin ikut memburuh, tetapi yang jelas ia hidup berpindah-pindah mengikuti kamp. Belakangan, ibu Amin pindah ke Buikwe, 18 km dari Jinja.

Kariernya di politik dan soal daging manusia

Idi Amin, Diktator Horor Si Mata Keranjang | Daily News Indonesia

Beberapa pengamat menjulukinya “Adolf Hitler dari Afrika.” Idi Amin Dada memang sekejam Hitler di Jerman: begitu kekuasaan berhasil digenggam, salah satu program utamanya adalah genosida alias pemusnahan massal kelompok etnis yang dianggap sebagai biang kerok kekacauan negeri.

Amin merebut kursi nomor satu Uganda dengan jalan kudeta militer yang menyingkirkan Presiden Militon Oboye pada 25 Januari 1971, tepat hari ini 47 tahun lalu. Saat Amin melancarkan kudeta, Oboye sedang berada di Singapura untuk mengikuti pertemuan negara-negara Persemakmuran Inggris.

Selain menjabat pucuk pimpinan tertinggi politik, Amin juga mendeklarasikan diri sebagai Panglima Angkatan Bersenjata, Kepala Staf Angkatan Darat, dan Kepala Staf Angkatan Udara Uganda. Undang-undang militer ia letakkan di atas hukum sipil. Para perwira di bawahnya ia tunjuk untuk mengisi posisi gubernur dan jabatan-jabatan penting lainnya.

Amin menganggap siapa pun yang masih setia pada Obote sebagai ancaman nomor satu. Para pembangkang yang kebanyakan berasal dari etnis Acholi dan Lango segera jadi target pembersihan massal.

Menurut riset Sue Lautze dari Harvard, tentara Lango dan Acholi dibantai di dua tangsi militer, Jinja dan Mbarara, pada Juli 1971. Pada awal 1972, lima ribu tentara Acholi dan Lango dibunuh. Dalam pembantaian tersebut rakyat sipil ikut dihabisi dengan jumlah korban dua kali lipat lebih banyak dari korban militer.

Genosida juga menyasar pemuka agama lokal, jurnalis, seniman, birokrat senior, hakim, pengacara, mahasiswa, kaum intelektual, terduga kriminal, dan orang asing yang kebetulan sedang berada di Uganda. Banyak juga dari mereka yang berstatus sebagai korban salah sasaran.

Selama delapan tahun berkuasa (sampai 11 April 1979), mayat orang-orang yang tak disukai Amin tergenang di Sungai Nil dan danau-danau di Uganda. Jumlah pastinya tak diketahui. International Commision of Jurist menyebut angka 80.000-300.000 korban. Sedangkan Amnesty International mencatat 500.000 korban tewas.

Kisah kegilaan Amin adalah racikan testimoni para saksi sejarah dengan mitos yang sengaja dibangun demi kedigdayaan citra Amin. Beberapa di antaranya isapan jempol. Namun dua cerita yang sungguh-sungguh terjadi menggambarkan tingkat kekejaman Amin yang betul-betul di luar nalar. Ia pernah melemparkan mayat korban pembantaian ke buaya peliharaannya. Amin juga dikisahkan menyimpan kepala korban di lemari pendingin—beberapa di antaranya kadang diajak ngobrol.

Satu rumor yang masih sulit dipercaya namun berkembang luas menyebutkan bahwa Amin adalah seorang kanibal. Ketika seorang reporter menanyakan rumor tersebut dalam sebuah jumpa pers, Amin menimpali:

“Aku tak suka daging manusia, terlalu asin,” ujarnya sambil tergelak.

Pemikiran Idi Amin

Hari Ini dalam Sejarah: Idi Amin Berkuasa di Uganda Halaman all - Kompas.com

“Kami bertekad menjadikan Uganda tuan atas nasibnya sendiri, melihat orang Uganda menikmati kekayaan negaranya. Kebijakan kami adalah mentransfer kendali ekonomi Uganda ke tangan orang Uganda, untuk kali pertama dalam sejarah kami,” katanya, pada akhir kemarau 1972.

Pada tahun itu Amin secara semena-mena mengusir orang-orang keturunan India dan Pakistan, terutama asal Gujarat, yang tinggal dan bekerja di Uganda. Ia juga menyita properti dan bisnis mereka tanpa ganti rugi, dan memberikan waktu 90 hari bagi mereka untuk meninggalkan Uganda.

Akhirnya, sekitar 80 ribu orang keturunan India, dengan status tanpa warga negara (stateless), di bawah ancaman senjata, serentak meninggalkan negara tersebut. Sebagian dari mereka kemudian ditampung oleh Inggris, Kanada, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain.

Namun, Amin abai dengan data ini: Bahwa penduduk yang diusirnya itu adalah penyumbang 90% pendapatan pajak Uganda. Mereka sekaligus mengendalikan 90% perekonomian Uganda. Hasilnya mudah ditebak. Ekonomi Uganda awut-awutan. Penerimaan pajak jeblok, ekonomi macet.

Memang, ‘elephant in the room’ di Uganda pada 70-an adalah dominasi ras Asia Selatan, terutama India, dalam perekonomian. Begitu besarnya dominasi tersebut, karena mereka menguasai hingga 90% bisnis di Uganda dan menyumbang 90% dari total pendapatan pajak Uganda.

Ungkapan elephant in the room atau gajah di ruangan ini mungkin agak sukar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kamus online Cambridge mendefinisikan ungkapan tersebut sebagai situasi di mana ada masalah yang diketahui banyak orang, tetapi tidak ada yang mau membicarakannya.

Tidak mungkin tidak menyadari keberadaan masalah tersebut, karena ibarat gajah, ia demikian besar dan mencolok. Namun, orang-orang di dalam ruangan itu akan tetap mengabaikannya, berpura-pura tidak tahu, karena masalah tersebut biasanya merupakan hal tabu.

Di Amerika Serikat, gajah di ruangan itu contohnya dominasi pelobi Yahudi dalam politik, atau konflik kepentingan anggota Kongres karena mereka memiliki saham perusahaan multinasional. Atas ‘gajah’ tersebut, sikap yang diambil biasanya TST alias tahu sama tahu, tanpa perlu diungkapkan.

Orang India yang jumlahnya hanya 20% dari populasi Uganda itu mula-mula diangkut Kerajaan Inggris pada akhir abad ke-19 sebagai buruh tani dan pekerja kasar. Mereka kemudian masuk ke berbagai sektor. Banyak dari mereka menetap di Uganda hingga akhirnya berkewarganegaraan Uganda.

Namun, dalam sikap sehari-hari, sebagian orang India menganggap peradaban mereka lebih maju dari Uganda. Karena itu, indofobia—sentimen anti-India yang mengacu pada kebencian terhadap orang dan budaya India— perlahan tumbuh bersamaan dengan bangkitnya generasi asli Uganda.

Pada masa kekuasaan Presiden Milton Obote (1966-1971), dibentuk Komite Afrikanisasi Perdagangan dan Industri. Komite ini mengusulkan program yang indofobik. Sistem izin kerja dan dagang khusus untuk orang India diperkenalkan, begitu pula legalisasi praktik segregasi dan diskriminasi orang India.

Puncaknya terjadi para era kepresidenan Idi Amin, setelah berhasil mengudeta Obote. Orang-orang keturunan India diusir paksa dari Uganda. Ke mana mereka pergi? Amin tak peduli. “Pokoknya, kendali ekonomi Uganda harus jatuh ke tangan orang Uganda,” tandasnya.

Namun, pengusiran itu jelas tidak menyelesaikan masalah. Pada 1986, 15 tahun setelah pengusiran tersebut, Pemerintah Uganda yang sudah terbebas dari Idi Amin setelah Kampala, ibu kota Uganda, direbut Tanzania pada 11 April 1979, kembali mengundang keturunan India datang dan membangun bisnis di sana.

Dalam pembahasan konstitusi terakhir, India bahkan diusulkan untuk dijadikan suku tersendiri di Uganda. Saat ini, orang keturunan India menguasai 65% perekonomian Uganda, dengan 50% setoran pajak berasal dari mereka. Bahkan, orang terkaya di Uganda saat ini adalah juga keturunan India.

Lalu apa kata Idi Amin, mengenai masanya sebagai diktator di Uganda yang disebut bertanggung jawab atas pembunuhan 100.000-500.000 nyawa? “Itu hanya nostalgia,” katanya seraya tersenyum, tak berapa sebelum ia meninggal di Riyadh, Arab Saudi, di tempat pengasingannya.

Selain kejam, Idi Amin juga mata keranjang. Ia pernah menikah enam kali. Idi Amin juga hobi berselingkuh. Idi Amin punya 50 wanita yang jadi simpanannya. Dia juga pernah melakukan tindakan aneh, menceraikan tiga istrinya lewat siaran radio.

Dan yang parahnya lagi, kebanyakan wanita yang pernah berhubungan intim dengan Idi Amin terkena penyakit sifilis syaraf. Kekuasaan dan kekejaman Idi Amin berakhir saat pasukan Tanzania menyerbu Uganda pada bulan April 1979. Ia melarikan diri ke Libya, kemudian tinggal di Saudi Arabia. Ia meninggal pada tanggal 16 Agustus 2003 di Jeddah, Arab Saudi

Mati di pengasingan

Tertangkap Basah Mesum dengan Istri Rekan Tentaranya, Idi Amin si Diktator  Uganda Lari Tanpa Busana - Halaman 3 - Serambi Indonesia

Tepat pada 16 Agustus 2003, Idi Amin Dada Oumee atau yang dikenal dunia sebagai Idi Amin meninggal dunia di pengasingannya di Arab Saudi. Pria ini adalah diktator Uganda yang berkuasa pada tahun 1971 hingga 1979.

Amin berpulang setelah mengalami kondisi koma sejak 18 Juli. Seorang juru bicara rumah sakit mengatakan, ia meninggal akibat kegagalan sejumlah fungsi organ.

Bahkan di pengujung hidupnya, pria ini masih memicu kontroversi. Tidak ada yang tahu berapa persisnya usia ketika ia meninggal. Situs Wikipedia bahkan tidak memuat tahun kelahirannya yang pasti. Yang tertera hanya “pertengahan tahun 1920-an”. Namun, sebagian besar sumber menyebut bahwa sang jenderal berusia 80 tahun.

Sosoknya, disebut memimpin salah satu kediktatoran paling berdarah dalam sejarah Afrika. Amin muda merupakan seorang petinju kelas berat dan bertugas sebagai perwira di tentara kolonial Inggris.

Karier militernya menanjak dengan cepat. Pada tahun 1966, tepatnya di bawah pemerintahan Presiden Milton Obote, Amin menjadi kepala angkatan darat dan angkatan laut.

Tak puas menduduki pucuk pimpinan militer, lima tahun berikutnya, tepatnya ketika Presiden Obote tengah berada di luar negeri ia merebut kekuasaan melalui sebuah kudeta berdarah. Aksinya sukses, Amin mendeklarasikan dirinya sebagai presiden seumur hidup.

Delapan tahun memerintah, ia mendunia karena perilaku aneh dan brutalnya. Ia mengklaim dirinya sebagai “Penakluk Kerajaan Inggris” atau “Conquerer of the British Empire (CBE)” dan meletakkan gelar CBE persis setelah namanya.

Tidak hanya itu, Amin bahkan menganugerahi dirinya dengan dua penghargaan, yakni the Victoria Cross dan the Military Cross.

Diktator satu ini diketahui memiliki lima istri, belasan anak, dan meminta agar dirinya dipanggil “Big Daddy”.

Seperti dikutip Edisi Bonanza88 dari BBC, Amin membunuh ratusan ribu orang yang menentangnya — jumlahnya diperkirakan hingga 400.000 orang. Sebuah laporan menyebut, ia melempar jasad korban ke buaya dan berbicara dengan potongan kepala mereka yang disimpannya di kulkas. Pria itu juga dituduh melakukan kanibalisme.

Kelompok HAM dan pemerintah Uganda mengungkap kekecewaan mereka mengingat Amin tidak pernah diadili atas berbagai tuduhan kejahatan yang dilakukannya.

Kekuasaan Idi Amin berakhir setelah tentara nasionalis Uganda yang dibantu Tanzania melancarkan sebuah kudeta, membuatnya melarikan diri. Sementara, Obote yang digulingkannya kembali memimpin Uganda.

Libya adalah tujuan pertama Amin dalam pelariannya, sebelum akhirnya ia berpindah ke Irak, dan berlabuh di Arab Saudi. Hingga meninggal, Amin tidak pernah menginjakkan kaki di Uganda.

Dalam peristiwa terpisah, sejarah mencatat bahwa pada 16 Agustus 1977 Raja Rock n Roll Elvis Presley meninggal dunia. Ia tutup usia di umurnya yang ke-42 tahun. Penyebab pasti kematiannya masih berselimut misteri.

Adapun 16 Agustus 1945 terjadi Peristiwa Rengasdengklok di mana Sukarno dan Hatta diculik sejumlah tokoh muda dan dibawa ke Rengasdengklok. Kaum muda mendesak agar dua bapak bangsa ini mempercepat proklamasi kemerdekaan.