Warga Jakarta pasti sudah akrab dengan kawasan Pasar Senen. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan yang ramai dan penuh aktifitas. Dari jual beli di pusat perbelanjaan hingga mobilitas transit di sekitar Terminal dan Stasiun Pasar Senen.

Kini tempat tersebut dikenal sebagai pusat perbelanjaan pakaian bekas. Tidak selamanya Ia mendapat citra demikian. Sebelumnya Pasar Senen lebih dikenal sebagai kawasan prostitusi terbesar di Jakarta.

Kawasan Pasar Senen memang memiliki sejarah yang sangat panjang. Kehadirannya sudah tercatat bahkan sejak abad 17. Nama Pasar Senen sendiri tidak muncul begitu saja.

Sebelumnya kawasan ini lebih dikenal dengan nama Weltervreden. Weltervreden dalam bahasa Belanda sendiri berarti “menyenangkan”. Sejarah kawasan ini sangat erat dengan kehadiran kolonialisme di Batavia.

Data yang dihimpun Edisi Bonanza88, sejarah Pasar Senen dimulai pada 1648, kala pemerintah kolonial Hindia Belanda memberikan sebidang tanah pada Anthony Paviljoen. Anthony sendiri merupakan seorang tuan tanah, yang kepemilikan tanahnya membentang dari kawasan Lapangan Banteng, Gambir, hingga Pasar Senen. Anthony memiliki sebagian besar tanah yang kini kita kenal sebagai daerah Jakarta Pusat.

Apabila kita mengenal daerah Jakarta Pusat sebagai pusat perkantoran, perbelanjaan, pusat kebudayaan hingga monumen bersejarah, dahulu kondisinya jauh berbeda. Pada saat Anthony mendapatkan sebidang tanah ini, wilayah tersebut masih berupa hutan yang ditempati banyak hewan buas.

Masyarakat lokal kala itu biasa melihat buaya, rusa, dan bahkan harimau berkeliaraan di wilayah tersebut. Kondisi ini lalu berubah sejak Anthony telah diberikan wewenang untuk mengelolanya.

Tempat Rekreasi Elit Belanda

HOT THREAD 1 : Mengulik Sejarah Pasar Senen dari Masa ke Masa : Okezone  Nasional

Awalnya Anthony mengembangkan kawasan tersebut sebagai tempat rekreasi bagi para elite Belanda yang ingin berwisata di suasana alam yang asri. Perlahan, Anthony mulai menyewekan sejumlah bidang tanah pada pedagang Tionghoa yang biasa mengelola peternakan dan perkebunan. Mereka lalu membuat beberapa perkebunan seperti kebun tebu, sayur mayur, hingga sawah. Pada bagian barat kawasan tersebut, Anthony juga membuat peternakan kerbau serta tempat nongkrong kaum elit Belanda. Daerah ini nantinya menjadi kawasan yang kita kenal sebagai Lapangan Banteng.

Pada wilayah Weltervreden di sisi timur, tepatnya di sisi selatan Jalan Gunung Sahari, terdapat banyak perkebunan tebu. Seiring dengan semakin menjamurnya perkebunan dan peternakan, meningkat pula aktifitas perdagangan di daerah tersebut. Warga-warga Tionghoa pun mulai mendirikan pasar-pasar di titik-titik strategis yang memungkinkan jual beli antar komoditas terjadi. Hal ini dilihat sebagai kesempatan emas bagi para tuan tanah Belanda lainnya.

Pada 1733, barulah Justinus Vinck membeli sebidang tanah di kawasan Senen. Setelah membeli, Vinck kemudian mengajukan proposal pada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan pasar di tanah yang Ia beli. Dua tahun setelahnya, permohonan itu disetujui oleh pemerintah kolonial.

Vinck diizinkan untuk membuka pasar dengan satu syarat, Pasarnya hanya boleh dibuka pada hari Senin. Hal ini mengikuti kebijakan Belanda yang saat itu dituliskan dalam surat perjanjian pengelolaan kawasannya. Dalam surat itu juga diketahui, Pasar Tanah Abang hanya boleh dibuka setiap hari Sabtu. Hal inilah yang membuat kita mengenalnya sebagai Pasar Senen. Sedangkan bagi warga Belanda, biasa menyebut kawasan ini dengan nama Pasar Vinck.

Awalnya, Pasar Senen berdiri dengan bangunan sederhana. Atapnya hanya ditutup menggunakan atap rumbia, dindingnya juga hanya ditutup dengan bilik bambu. Di dalamnya sering terjadi transaksi jual beli komoditas sayur mayur dan kebutuhan sehari-hari. Pasar ini terus tumbuh dan berkembang hingga akhirnya mulai lesu pada masa penjajahan Jepang.

Masa kolonial Jepang dipenuhi oleh banyak ketidakpastian finansial. Pasalnya, Jepang memiliki kebijakan yang menyebabkan banyak masyarakat harus kehilangan kepemilikan hartanya. Para pedagang juga harus menyetor logistik untuk kebutuhan perang pasukan Jepang.

Tempat Buang Lendir

Planet Senen, Lokalisasi Prostitusi Legendaris di Jakarta | Republika Online

Selepas kemerdekaan Indonesia pada 1945, pasar-pasar di Jakarta tidak langsung tumbuh dengan stabil. Kondisi perekonomian masyarakat pada saat itu masih terpuruk.

Hal ini diperparah oleh dampak hiperinflasi, karena banyak dari masyarakat Indonesia yang masih menggunakan mata uang Jepang. Saat itu memang mata uang yang umumnya digunakan sehari-hari bisa mencapai tiga jenis, dari mata uang bank Jawa, Gulden Belanda, dan Yen Jepang.

Setahun setelahnya keadaan ekonomi membaik. Ketika harga komoditas perlahan mulai stabil, aktivitas perdagangan di Pasar Senen pun kembali tumbuh. Pada 1950an hingga 1960an, tidak hanya toko-toko baru yang bermunculan. Daerah itu kemudian juga diisi oleh tempat-tempat hiburan, mulai dari kedai kopi, hingga bioskop legendaris Planit Senen.

Planet Senen sering kali disinggung dalam sejarah sebagai pusat prostitusi Jakarta pada era 50an. Namun kehadiran prostitusi di Senen sebenarnya sudah ada jauh sebelum itu. Kehadiran prostitusi di Senen mulai muncul lantaran adanya pembangunan Stasiun dan jalur kereta api yang dilaksanakan pada abad 19.

Menurut Nur Syam, ketika Belanda membangun jalur Kereta Api lintas jawa, permintaan terhadap jasa pekerja seks mulai tumbuh. Pasalnya, proyek pembangunan tersebut membutuhkan serapan tenaga kerja yang tinggi. Buruh-buruh yang membangun rel kerap membutuhkan pemuas hasrat seksual karena jauh dari rumahnya.

Akhirnya beberapa PSK mulai menetap di daerah dekat rel. Lama kelamaan, seiring dengan beroperasinya jalur tersebut, tempat mangkal PSK mulai pindah mendekati stasiun-stasiun yang ramai.

Prostitusi juga mulai tumbuh di dekat Stasiun Pasar Senen. Pada kawasan itu, para pelacur biasa menyediakan jasanya kepada para pekerja kereta api dan pelancong yang berpergian kala malam hari. Prostitusi di Senen semakin tumbuh menjamur seiring dengan tumbuhnya kawasan pasar di sana serta munculnya tempat-tempat hiburan di mana muda-mudi biasa bergaul dan bercengkerama.

Pertumbuhan prostitusi di Pasar Senen juga dicatat oleh Alwi Shihab, sejarawan Jakarta. Menurut Alwi, Pasar senen pada era 1950an ramai tiap malam, bukan karena aktifitas pasar, melainkan karena hadirnya Planet Senen. Nama Planet Senen sendiri diambil dari peristiwa bersejarah dalam perang dingin.

Ketika itu, Soviet dan Amerika Serikat berlomba untuk mengirimkan pesawat dan manusia pertama ke luar angkasa. Berbeda dari namanya, citra Planet Senen justru lebih banyak dikenali karena aktifitas para pelacur di depannya tiap malam.

Jika pada siang hari Planet Senen menayangkan film dan pertunjukkan, ketika malam justru banyak terlihat pelacur yang mangkal persis di depan gedungnya. Para pelanggan yang sudah menyepakati harga, akan dibawa ke bangunan-bangunan gubuk di sekitar Stasiun Senen. Bahkan terkadang aktifitas seksual juga dilakukan di gerbong-gerbong kereta yang tidak terpakai.

Periode awal prostitusi di Senen memunculkan banyak kisah menarik. Salah satunya adalah kisah penerbitan poster revolusi karya Affandi. Pada 1945, pelukis kawakan Affandi ditugaskan untuk membuat poster perjuangan. Selagi bekerja menyelesaikan gambar, Ia kebingungan untuk memasukkan teks dalam poster tersebut. Kebetulan di hari itu, sastrawan ternama Chairil Anwar, lewat di depannya. Chairil langsung diminta untuk mengajukan ide.

Tanpa pikir panjang Chairil langsung berujar “Bung Ayo Bung!”. Semua seniman di sana langsung menyetujui ide itu. Setelah teks tersebut ditulis di atas poster, lantas Affandi bertanya dari manakah Chairil mendapat ide tersebut. Ternyata ide Chairil datang dari panggilan para pelacur yang suka mangkal dekat Stasiun Senen. Para pelacur itu biasa mengajak para pelanggan untuk menyewa jasanya dengan memanggil “Bung, Ayo Bung” secara genit dan nakal.

Kisah lain juga ditulis oleh Alwi Shihab. Kebiasaan pelacur Senen menggunakan gerbong kereta sebagai bilik asmara ternyata pernah membawa kesialan. Sempat ada salah satu pelacur yang mengajak pelanggannya eksekusi di dalam salah satu gerbong kereta. Saking asiknya, mereka tidak menyadari bahwa gerbong itu mulai dioperasikan. Merekapun asik bersenggama kala gerbong berjalan. Barulah pada saat gerbong sampai di Stasiun Jatinegara mereka dipergoki oleh karyawan pengelola Kereta Api saat itu.

Semakin lama prostitusi di Pasar Senen semakin tidak terkontrol dan menimbulkan keresahan baru. Pada era awal 1970an, kawasan Planet Senen menjadi kawasan yang sangat liar dan tidak terkendali. Bahkan razia dari pemerintah saja tidak dilakukan. Akibatnya, banyak anak di bawah umur yang bebas keluar masuk kawasan tersebut dan menyaksikan apa saja yang aktifitas yang terjadi di sana.

Dikelola Ali Sadikin

serba sejarah: Prostitusi di Jakarta Dalam Tiga Kekuasaan, 1930 – 1959:  Sejarah dan Perkembangannya

Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta kala itu, berusaha mencari banyak cara untuk menindak prostitusi di sana. Strategi pertama yang dilakukan Ali adalah dengan memperbaiki citra kawasan tersebut. Caranya dimulai dari mendiirikan Gelanggang Remaja Planet Senen. Gelanggang itu digunakan agar anak di bawah umur yang keluar masuk kawasan tersebut mendapat ruang yang berbeda dari ruang aktifitas orang dewasa. Namun, hal ini tidak dirasa cukup karena masalah prostitusi di Senen sendiri masih berlangsung.

Untuk itu, Ali Sadikin melakukan studi banding ke Bangkok, Thailand. Di negeri Gajah Putih, Ali melihat banyak terdapat lokalisasi di mana pelacuran bisa dikelola dan dibatasi oleh pemerintah. Sistem lokalisasi ini banyak berfungsi untuk membatasi ruang gerak pertumbuhan prostitusi, serta meminimalisir masalah-masalah prostitusi seperti penyebaran penyakit seks menular, hingga eksploitasi anak di bawah umur.

Melihat lokalisasi yang ada di Bangkok, Ali langsung menggarap projek lokalisasi di Jakarta. Di kawasan Senen, Ali mendirikan lokalisasi Kramat Tunggak. Lokalisasi ini disebut-sebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara pada masa itu. Setelah lokalisasi didirikan, Ali kemudian menginstrukisikan para pejabat lokal untuk menutup semua tempat mangkal prostitusi di seluruh Jakarta. Kala itu pelacur biasa mangkal di beragam sudut kota, mulai dari Angke, Jelambar, hingga Rawa Bangke. Semua pelacur yang menyebar itu kemudian dipindahkan dan disatukan ke dalam lokalisasi Kramat Tunggak.

Lokalisasi Kramat Tunggak tidak dapat dikatakan berhasil. Pada awalnya, lokalisasi tersebut hanya mampu menyerap 300 pelacur dan 76 mucikari dari seluruh Jakarta. Jumlah ini meningkat hingga pada akhir 90an. Pada masa keemasannya, lokalisasi ini dipenuhi hingga 2000 pekerja seks serta 228 mucikari.

Meskipun memiliki jumlah yang pelacur yang banyak, prostitusi tetap tumbuh di sudut-sudut kota lainnya. Pelacuran tetap terjadi di daerah-daerah seperti Kali Jodo, Rawa Malang, maupun Boker. Bisnis lendir di daerah-daerah tersebut biasa dilakukan secara kucing-kucingan.

Selain muncul tempat-tempat prostitusi baru, kebijakan Ali Sadikin pun ditentang banyak pihak. Salah satu dari yang aktif menentang kebijakan tersebut adalah Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI). Menurut KAWI, kebijakan lokalisasi tidak manusiawi. Pasalnya, ide Ali datang dari keinginan untuk mengeksplotasi perempuan, dan merendahkan derajat perempuan. Selain itu, lokalisasi justru dianggap menjauhkan perempuan dari kemungkinan untuk rehabilitasi.

KAWI menawarkan solusi lain. Menurut mereka yang perlu dilakukan adalah meningkatkan sanksi dan menindak para mucikari yang nakal. Ali menampung ide ini, dan langsung mendirikan satu panitia kecil yang juga melibatkan delegasi dari KAWI.

Setelah panitia ini beroperasi, prostitusi pun masih terus berjalan secara liar. Hal ini menjadi evaluasi bagi Ali, yang kemudian menyadari kebijakan lokalisasi tetap dibutuhkan. Pasalnya, dengan adanya lokalisasi pembinaan justru lebih mudah dilakukan dan pemandangan pelacur mangkal di jalan justru lebih jarang terlihat.

Lokalisasi Kramat Tunggak baru ditutup secara resmi ketika Jakarta dipimpin oleh Sutiyoso. Pada masa kepemimpinannya di 1999, Sutiyoso menutup lokalisasi besar tersebut dan mengubahnya menjadi pusat pendidikan agama. Sutiyoso langsung menggusur sejumlah rumah bordil yang ada di sana, dan kemudian membangun Jakarta Islamic Centre pada 2002. Meskipun telah ditutup, prostitusi di Jakarta masih tetap berlangsung dan belum ada kebijakan baru untuk menanganinya hingga kini.