19 Maret lalu merupakan peringatan tahun ke-26 penyanyi legendaris Nike Ardilla berpulang ke tangan Sang Pencipta. Ia mencapai puncak karir di usia yang sangat belia, dan harus meninggalkan dunia sekejap setelah mencapai kesuksesan. Kejadian ini menggemparkan warga Indonesia, namun beberapa orang yakin ada kejanggalan besar dari kecelakaan itu.

Kecelakaan yang dialami Nike Ardilla membawa sejumlah misteri, terutama untuk para fans berat penyanyi asal Bandung ini. Sejumlah teori mengatakan Nike sedang dalam keadaan mabuk ketika sedang mengenadari mobil.

Teori lain mengatakan kecelakaan tersebut merupakan rekayasa, yang terjadi sebenarnya adalah penabrakan yang dilakukan dengan sengaja. Masing-masing teori berangkat dari kisah hidup ataupun kisah romansa yang sedang dijalani oleh sang penyanyi. Namun, kematian Nike secara resmi dinyatakan sebagai kecelakaan karena hilang kendali dalam kecepatan tinggi.

Lalu seperti apa kisah hidup dan perjalanan karir seorang Nike Ardilla? Berikut Edisi Bonanza88 memaparkan.

Nike Ardilla lahir dengan nama lengkap Raden Rara Nike Ratnadila Kusnadi, pada 27 Desember 1975 di Bandung. Karir Nike sebagai penyanyi sudah dilakoninya bahkan dari usia dini. Sejak kecil, Ia giat mengikuti sejumlah kompetisi ataupun mengisi panggung-panggung kecil.

Nike tidak hanya bernyanyi, Ia juga piawai melakoni tari tradisional. Hal ini juga merupakan bakat yang dilihat oleh orang tuanya, Nining Ninsihrat. Nining melihat bakat Nike dan aktif mengasahnya, hingga akhirnya Nike berhasil memenangkan sejumlah kompetisi. Salah satu prestasi Nike pada usia dini adalah terpilihnya sebagai juara Harapan 1 Lagu Pilihanku TVRI dan Juara Festival Pop Singer HAPMI Kodya Bandung.

HAPMI sendiri merupakan singkatan dari Himpunan Artis Penyanyi Musisi Indonesia. Nining juga mendaftarkan Nike ke dalam perhimpunan ini, mengenalkannya pada jalan hidup sebagai penyanyi professional. Pada masa itu, musik rock juga merajalela di Indonesia.

Kita bisa menemukan punggawa-punggawa musik keras dari band Rock seperti God Bless dan Elpamas, hingga penyanyi perempuan bergenre Rock seperti Nicky Astria. Sedangkan di luar negeri, kita bisa menemukan band rock seperti Europe, Lynrd Skynrd dan bahkan The Rolling Stones.

Para musisi Rock ini yang menjadi inspirasi utama Nike Ardilla untuk menguasai genre yang sedang hangat tersebut. Sebelum memulai debutnya, Nike mengawali karir dengan cover lagu-lagi rock populer seperti Honky Tonk Woman karya The Rolling Stones hingga The Final Countdown karya Europe. Nike hadir membawakan lagu-lagu garang itu dan membawa nuansa berbeda di belantara musik Indonesia yang kala itu didominasi oleh lagu “pop cengeng”.

Istilah “pop cengeng” sendiri merupakan sindiran Menteri Penerangan kala itu, Harmoko, yang menjelaskan lagu-lagu pop bernuansa sendu. Harmoko bahkan sempat melarang kehadiran pop cengeng.

Karakter vokal Nike yang tinggi dan menyayat membuatnya menonjol dibandingkan penyanyi-penyanyi muda kala itu. Karakter ini pula yang membawanya masuk lebih dalam ke industri musik yang lebih serius. Nike mulai mengawali debutnya ketika merilis lagu berjudul “Lupa Diri” dalam album kompilasi bertajuk Bandung Rock Power.

Album yang dirilis pada 1987 itu ditata oleh Ferry Atmadibrata dan berisi penyanyi-penyanyi yang belum terlalu terkenal seperti Deddy Stanzah dan Gina Kasmiri. Dalam Album itu, nama Nike masih ditulis dengan Nike Astrina. Nama ini sengaja dipakai untuk menyaingi penyanyi perempuan kawakan Nicky Astria yang tenar pada masas yang sama.

Setelah merilis Bandung Rock Power, nama Nike mulai dilihat oleh dunia musik Indonesia. Sayangnya, album solo yang dirilis Nike setelahnya tidak langsung laris terjual. Tidak heran, album itu dirilis tepat ketika Nike baru lulus Sekolah Dasar pada 1988. Di saat yang sama, kampanye “pop cengeng” Harmoko juga sedang gencar-gencarnya, sehingga album yang berisi lagu-lagu cinta itu tidak laku di pasar.

Seiring datangnya era 90an, datang pula kesuksesan bagi Nike Ardilla. Pada 1990 Nike membintangi sebuah film berjudul Ricky (Nakalnya Anak Muda). Dalam film yang disutradarai oleh Achiel Nasrun itu, Nike beradu peran dengan Ryan Hidayat, yang kemudian juga menjadi idola kawula muda era 90an. Selain film, Nike juga sempat mengisi sinetron seperti Warisan Darah Biru 2 yang tayang tahun 1995.

Nama Nike di dunia tarik suara baru benar-benar melambung setelah merilis album bertajuk Seberkas Sinar. Seberkas Sinar bukanlah album main-main, pasalnya musik-musik di dalamnya diproduksi oleh nama-nama kawakan seperti Deddy Dores, Harru Subarja, dan Denny Sabri. Album ini dirilis dalam naungan Proyek Q Records dan berhasil menembus penjualan sebanyak 500.000 keping. Ini merupakan prestasi yang sangat gemilang mengingat usia Nike pada kala itu baru 14.

Album ini selalu dikatakan sebagai awal mula kesuksesan Nike Ardila. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun terdapat proses yang cukup panjang bagi Nike hingga akhirnya bisa menemui produser-produser musik yang cocok dan bisa mengangkat bakat menyanyi Nike. Tidak lain adalah orang-orang berpengaruh di HAPMI yang berkontribusi pada jalan karir Nike hingga sampai pada album ini.

Ketika bergabung di HAPMI, bakat Nike langsung diasuh oleh Djajat Paramor dan Deni Kantong. Bakat Nike juga dilirik oleh Deni Sabrie yang kemudian inisiatif untuk menjadi manajernya. Sebagai manajer yang memiliki wawasan musik luas, Deni Sabrie mengenalkan Nike pada Deddy Dores. Kolaborasi Nike dan Deddy Dores ini terbukti menjadi sebuah kolaborasi legendaris.

Mengenang Sosok Muda Legendaris: Nike Ardilla

Pada 1992, kolaborasi Nike dan Deddy membuahkan sebuah album legendaris bertajuk Bintang Kehidupan. Album ini laris terjual hingga dua juta keping. Jumlah yang fantastis dan bahkan mengalahkan penjualan album Nicky Astria.

Popularitas Nike semakin melambung, Ia pun menanggalkan nama panggung Nike Astrina karena sudah tidak butuh lagi untuk menandingi Nicky Astria. Pergantian nama di album ini sekaligus sebagai pernyataan bahwa Nike bukanlah “KW” dari Nicky Astria.

Setelah album Bintang Kehidupan, Nike tidak hanya mendapat kesuksesan dari segi finansial. Kesuksesan Bintang Kehidupan juga membawa kelompok fans garis keras yang setia untuk membeli tiket konser-konsernya.

Pada usia yang masih belia, Nike sudah menjadi pujaan masyarakat Indonesia. Jadwalnya dipadati agenda konser di seluruh negeri, dari Sabang hingga Merauke. Setiap kali manggung, hampir semua penonton hapal menyanyikan lirik lagu-lagu Nike.

Padatnya jadwal konser Nike ini merupakan kontribusi besar yang diberikan oleh sang Ayah, yang juga berperan sebagai manajer pribadi Nike. Sebagai manajer, sang Ayah berperan untuk membangun citra Nike di antara para fansnya.

Sang Ayah tidak hanya berperan sebagai perantara Nike dan media-media yang meliputnya, tetapi juga sebagai pengelola agenda manggung. Ia selalu menerima tawaran manggung yang diberikan kepada Nike dan mengelola pembagian jadwalnya melalui sebuah papan agenda khusus.

Ramainya tawaran manggung juga membuat harga manggung Nike melambung tinggi. Untuk booking jadwal Nike, penyelenggara acara harus menyiapkan tawaran dari jauh-jauh hari. Sekali manggung, Nike bisa dibayar dari 1 juta rupiah hingga 2,5 juta rupiah, jumlah yang besar mengingat kala itu belum krisis moneter.

Jadwal yang padat, penghasilan yang tinggi, serta basis fans yang besar, membawa Nike ke dalam lingkaran selebritas. Semenjak tenar, Nike mulai sering bergaul dengan para pesohor lain dan mengikuti gaya hidup mereka. Nike setidaknya berteman baik dengan selebritas ternama seperti Tessa Mariska, Gugun Gondrong, hingga Titi DJ.

Selain menjalin hubungan pertemanan, kisah asmara Nike pun masih berada dalam lingkaran artis. Semasa hidup Nike dikabarkan pernah menjalin hubungan dengan pebalap, kerabat jendral, lawan mainnya di film, Ryan Hidayat.

Misteri Tewasnya Nike Ardilla

Lama Tak Terdengar Kabarnya, Ibunda Nike Ardilla Muncul setelah 25 Tahun  Kepergian sang Putri - Pikiran-Rakyat.com

Jadwal Nike yang padat tidak dapat diganggu-gugat. Pada saat-saat paling sibuk, Ia terkadang harus menyetir mobilnya sendiri untuk berpergian dari kota ke kota. Kebiasaan buruk ini juga terjadi pada hari meninggalnya idola kawula muda 90an itu.

Pada malam 18 Maret, Nike baru saja menyelesaikan syuting di Bogor. Karena sudah tidak ada agenda lain, Nike mengajak manajer pribadinya, Atun, untuk pulang ke Bandung. Mereka berdua bertalak dari Bogor dan sampai di Bandung pada tengah malam.

Sesampainya di Bandung, Nike dan Atun beristirahat sebentar ke kediaman keluarga Nike yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta. Ternyata Nike sudah ada agenda lain untuk bertemu dengan teman-teman selebritisnya. Pertemuan yang pertama, Nike beranjak ke Hotel Jayakarta untuk mengobrol dengan Gugun Gondrong.

Selepas bercengkrama dengan Gugun, Nike juga mendapat ajakan untuk nongkrong bersama Titi DJ di BRI Tower. Setelah pertemuan itu, Nike dan Atun lanjut makan di Restoran Kintamani. Dalam sesi makan ini, Nike kembali diajak mengobrol oleh Gugun di Hotel Jayakarta.

Tidak terasa malam sudah habis dan pagi mulai menjelang. Tidak terasa agenda lain juga sudah menanti mereka di Bogor. Mengetahui Nike sedang kelelahan, Atun menawarkan diri untuk memegang kemudi. Sayangnya Nike menolak penawaran manajer pribadinya itu.

Karena telat, mereka bergegas pamit dan langsung melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di Jalan Riau, perjalanan mereka terhalan mobil yang melaju pelan. Ketika menyalip, ternyata ada mobil yang sedang melaju kencang dari arah depan mereka. Nike banting stir lalu hilang kendali dan menabrak bak sampah yang terbuat dari beton.

Sangat disayangkan Nike saat itu tidak mengenakan sabuk pengaman. Nike dan Atun dibawa ke rumah sakit oleh warga sekitar. Pihak keluarga baru mengetahuinya beberapa jam setelah kejadian. Mereka tidak langsung menerima kabar menyedihkan itu. Awalnya mereka menyangkal, karena mereka hanya mengetahui Nike pergi untuk malam mingguan. Sebelum pada akhirnya mereka pergi untuk memastikan kabar tersebut ke kantor polisi.

Di kantor Polresta, mereka langsung dikagetkan kehadiran mobil Honda Civic Genio berplat D 27 AK, mobil pribadi yang digunakan Nike. Bagian depannya sudah rusak parah, dan polisi sudah mengamankan barang-barang pribadi Nike. Polisi dengan berat hati menyampaikan bahwa kondisi Nike sudah tidak tertolong.

Kisah tragis ini juga membawa haru yang besar pada para penggemar Nike Ardilla. Beberpa di antara fansnya bahkan menciptakan beragam teori tentang kematian Nike. Akun Tiktok @sailormoongalak misalnya, mengatakan ada kaitan antara kematian sang artis dengan keluarga cendana. Hal ini didasari oleh hubungan dekat Nike dengan Eno Sigit yang merupakan cucu dari Soeharto.

Hubungan mereka diketahui tidak berlangsung baik, pasalnya Eno memergoki Nike bermesraan dengan kekasihnya. Setelah kejadian ini Eno bahkan pernah menodongkan pistol ke depan Nike.

Menurut teori ini, mobil Nike tidak hilang kendali dan kecelakaan melainkan ditabrak oleh mobil Taft merah yang dikendarakan oleh seorang berperawakan militer. Teori ini diperkuat dengan pernyataan Eno Sigit ketika diwawancarai soal kematian Nike. Tanpa ada tuduhan macam-maca, Eno tiba-tiba langsung mengelak dengan menyatakan “aku tidak membunuh Nike Ardilla”.

Teori lain yang mengemuka adalah kecelakaan Nike disebabkan oleh kondisi mabuk. Teori ini berangkat dari anggapan bahwa pada malam minggu tersebut, Nike asik ngobrol dan nongkrong bersama para selebritis. Kehidupan selebritis yang padat dan seringkali dekat dengan kehidupan malam menciptakan sebuah dugaan bahwa Nike mabuk berat setelah nongkrong dengan Titit DJ dan Gugun Gondrong.

Faktanya, Nike tidak mabuk ketika berkendara. Setidaknya hal ini dikonfirmasi oleh Atun, si manajer pribadi, serta hasil visum polisi.

Apapun teori yang mengemuka, kematian Nike tetap menjadi peristiwa bersejarah, terutama bagi para fansnya. Para fans bahkan mendirikan sebuah museum Nike Ardilla dan mengenang hari kematiannya setiap tahun. Museum Nike Ardilla berisi barang-barang koleksi, mulai dari barang-barang pribadi Nike yang dilelang, hingga dokumentasi lengkap perjalanan karir Nike.