Persoalan identitas bagi Indonesia, dirasa semakin perlu untuk mendapat perhatian lebih di era saat ini. Di era globalisasi sekarang ini tidak mungkin lagi bisa dibendung masuknya berbagai produk budaya luar negeri ke Indonesia.

Apalagi di kota Jakarta, pintu gerbang pertama yang merasakan dampak tersebut. Kiat-kiat yang jitu seharusnya dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mempertahankan berbagai budaya asli karya leluhur kita agar tetap lestari.

Salah satu karya yang dibanggakan masyarakat Jakarta hingga saat ini adalah seni budaya Betawi. Suku Betawi adalah salah satu etnis di Indonesia yang dipercayai sebagai etnis penduduk asli kota Jakarta.

Akhir-akhir ini, orang-orang Betawi di Jakarta telah kembali bangkit mengenai identitas budaya dan identitas etnik mereka dengan berusaha menunjukkan kembali eksistensi dan identitas orang Betawi di Jakarta. Salah satunya yaitu dapat dilihat dari peran para elit Betawi, pemuda, dan organisasi Betawi dalam membangun ikatan eksistensinya agar identitas yang sudah ada tidak pudar.

Penonjolan identitas budaya Betawi ini dapat dilihat pada Pemerintahan DKI Jakarta periode 1966-1977 ketika Ali Sadikin memegang jabatan. Pada masa itu, dilakukan berbagai upaya penggalian dan pengembangan terhadap kebudayaan Betawi yang diprakarsai oleh Pemerintah DKI Jakarta, seniman, akademisi dan kalangan Betawi melalui kegiatan-kegiatan diskusi, penelitian, festival dan lain-lain.

Kebudayaan Betawi dapat dikatakan sebagai potret miniatur kebudayaan Indonesia. Berbagai usaha dilakukan untuk melestarikan seni budaya Betawi agar digemari generasi muda di ibu kota dengan cara menggali kembali khasanah budaya Nusantara tersebut, kemudian memodifikasinya sehingga melahirkan kreasi baru.

Salah satunya dapat dilihat dari kesenian yang ada di dalam kebudayaan Betawi, yaitu seni pencak silat. Pencak silat merupakan salah satu seni bela diri yang khas dari kebudayaan Betawi.

Seni budaya beladiri yang oleh orang Betawi disebut ‘maen pukulan’ ini lahir dari kemampuan orang yang terpilih yang tidak hentinya melatih kepekaan inderawi, mengolah kelebihan atau kelenturan anatomi tubuh dan belajar sebanyak mungkin dari pertanda alam seperti riak sungai, hembusan angin, gerak dan laku macan, monyet, kelabang, belalang dan sebagainya.

Silat pada perkembangan sejarahnya banyak menghasilkan berbagai jenis aliran pencak silat yang semakin membentuk identitas budaya dari pencak silat itu sendiri. Inilah yang kemudian menghasilkan banyak persepsi bagaimana pencak silat itu membentuk identitas budaya.

Pencak silat secara harfiah merupakan gerak tari yang berupa olahraga dengan gunakan alat atau senjata. Dari semua rekam jejak sejarah, pencak silat merupakan olahraga beladiri asli Indonesia yang sudah mendunia. Sama dengan Karate dari Jepang atau Taekwondo dari Korea Selatan, silat jadi salah satu olahraga beladiri yang diminati banyak orang.

Menariknya meski olahraga asli Indonesia, perkembangan silat di negeri ini bisa dibilang masih cukup mengkhawatirkan. Salah satu yang buat kita khawatir ialah soal bagaimana dokumentasi soal silat.

Menurut pengamat dan pemerhati pencak silat, Rosalia Scortino Sumaryono seperti dikutip Edisi Bonanza88 dari Cnn.com, wajib ada dokumentasi sebagai upaya menjaga silat sebagai olahraga asli Indonesia.

“Pencak silat ini selain kompetisi, harus ada juga penelitian, dokumentasi, dan tulisan laporan- laporan.” kata istri dari legenda pencak silat Indonesia, Sumaryono atau Oong Maryono.

Ditambahkan oleh Rosalia, harusnya pencak silat dibawa ke UNESCO sebagai legalitas bahwa Indonesia ialah tempat asal atau tempat lahir dari pencak silat.

Isu mengenai pencak silat untuk dibawa ke lembaga PBB tersebut sempat ramai dibicarakan publik pasca klaim dari Malaysia yang menganggap pencak silat ialah warisan budaya dari Negeri Jiran itu pada 2016.  

10 Foto Setu Babakan Jakarta Selatan, Harga Tiket Masuk Kampung Betawi  Srengseng Sawah Ciganjur Lenteng Agung Jagakarsa | JejakPiknik.Com

Perkampungan Budaya Betawi oleh penduduk setempat dahulu biasa disebut dengan nama Kampung Kalibata. Semenjak berdirinya Perkampungan Budaya Betawi, nama Kampung Kalibata seolah tenggelam dan diganti dengan sebutan ”Kampung Betawi Setu Babakan”.

Penduduk yang tinggal di sekitar lokasi Perkampungan Budaya Betawi adalah penduduk Kampung Kalibata. Sejak tahun 2001 diresmikannya Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan bukanlah nama sebuah kampung yang sesungguhnya.

Setu Babakan merupakan nama sebuah setu yang terdapat di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Merujuk pada buku karya Afandi, Perkampungan Budaya Betawi Sebagai Representasi Identitas Kebetawian, Kampung Kalibata mempunyai asal usul dalam penamaannya.

Nama kampung ini berasal dari kata kali dan bata yang berarti sebuah sungai yang dibangun dengan menggunakan bahar dari batu bata.

Pada zaman Kolonial Belanda, kali kecil ini dibuat tanggul dengan menggunakan batu bata sebagai bahar dasarnya dan merupakan sebuah saluran irigasi yang dibangun oleh Pemerintah Belanda untuk mengairi tanah persawahan yang terdapat di sekitar wilayah Jagakarsa.

Sejak zaman Kolonial Belanda, wilayah Kampung Kalibata adalah sebuah kampung pertanian sawah yang subur karena adanya endapan-endapan lumpur yang semula banyak dibawa oleh anak-anak sungai yang dahulu mengalir dari setu-setu yang terdapat disekitar daerah tersebut.

Saat ini setu yang masih tersisa dan masih mengandung air adalah Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong.

Datuk Muali Basya yang berasal dari daerah Luar Batang menurut Afandi, merupakan tokoh yang pertama kali mendirikan Kampung Kalibata, lambat laun semakin banyak orang-orang yang berdatangan ke tempat ini sehingga terbentuklah kampung.

Pada 1987 Setu Babakan ditetapkan sebagai daerah resapan air oleh Pemda DKI Jakarta sehingga adanya pembebasan tanah di sekitar kawasan setu Babakan. Pada tahun 1993-1994 dilakukan proyek pembangunan tanggul pada bantaran setu yang berdekatan dengan pintu air.

Setelah itu, pada 2000 dilakukan penataan Setu Babakan dalam rangka pembangunan kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan dengan melakukan pelebaran permukaan Setu Babakan untuk dikembangkan sebagai objek wisata perkampungan budaya Betawi.

Sebagai salah satu perkampungan yang memiliki misi menaikkan budaya Betawi agar semakin eksis, perkampungan budaya Betawi melalui sanggar silat Beksi mengadakan latihan setiap 2 kali dalam rentang waktu 1 minggu.

Selain bertujuan untuk semakin menguatkan identitas yang sudah diterima oleh anggota Beksi, silat Beksi juga berperan untuk menjaga determinasi diantara pendatang yang mengunjungi Perkampung Budaya Betawi, Setu Babakan bahwa silat Beksi masih tetap eksis sebagai salah satu identitas Budaya Betawi.

Kehadiran penonton adalah ujung tombak dalam modal ekonomi, sebab pertunjukkan membutuhkan apresiasi, dan itu hanya bisa dihadirkan oleh penonton atau pengunjung Setu Babakan.

Selain itu, dengan keunikan dari silat Beksi dari keindahan gerak dalam melakukan pementasan. Ini yang kemudian mendorong terciptanya proyek kreatif yang bernama Palang Pintu. Palang Pintu merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum terjadinya akad pernikahan dalam adat istiadat Betawi.

Dimulai dari perbincangan dengan menggunakan pantun yang sopan dari perwakilan kedua mempelai. Sejarah mencatat bahwa tradisi palang pintu tidak dikenal pada masa awal perkembangan silat Beksi.

Peran Pemerintah Jakarta

Mengenal Silat Beksi Asli Betawi | Republika Online

Modal sosial yang dimiliki perkampungan budaya Betawi dapat terlihat dengan adanya peraturan pemerintah daerah No. 3 tahun 2005 yang mengatur penetapan perkampungan budaya Betawi di kelurahan Srengseng sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ini merupakan relasi yang bernilai dengan pihak terkait yang menghasilkan kekuatan hukum kuat untuk perkampungan budaya Setu Babakan.

Tidak hanya mengkaitkan dengan pihak pemerintah, namun juga adanya relasi dengan BAMUS Betawi sebagai tempat pengayom segala aktivitas organisasi ataupun yayasan masyarakat Betawi.

Dan untuk Beksi, relasi ini terjadi dengan berbagai perguruan silat Betawi yang cukup banyak serta dengan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) sebagai institusi resmi olah raga Pencak Silat. Untuk terus menjaga eksistensi identitas budaya Betawi, modal kultural/budaya yaitu segala pengetahuan satu sama lain juga cukup penting.

Oleh karenanya apa yang ditampilkan perkampungan budaya Betawi untuk menunjukan identitias Betawi tidak sembarang orang yang menampilkannya. Mereka adalah orang-orang yang paham dengan budaya Betawi, Beksi dilatih oleh salah satu sesepuh silat Betawi yang dari banyak literatur sejarah telah lama mengembangkan dan terus menunjukan eksistensi silat Betawi sebagai identitas Betawi.

Selain silat, identitas kebetawian juga dikaitkan dengan agama Islam tidak saja dalam bentuk pertunjukkan kesenian tetapi juga menyangkut pada perilaku atau tindakan itu sendiri. Misalnya, ketika semua aktivitas yang berlangsung di Perkampungan Budaya Betawi akan dihentikan ketika memasuki waktu shalat. Demikian juga, ucapan assalamu’alaikum merupakan bentuk sapaan yang berlaku di lingkungan kampung budaya Betawi.

Pencak Silat sebagai salahsatu budaya Betawi saat ini sangat memberikan pengetahuan bagi anggotanya khusunya pengetahuan beladiri agar anggotanya mempunyai bekal untuk menjaga diri mereka dari segala marabahaya yang menghampiri mereka.

Berkembangnya pencak silat khususnya di kawasan Jakarta tidak luput dari peran kalangan masyarakat Betawi itu sendiri untuk melestarikan salah satu warisan budayanya agar tidak lenyap akibat munculnya budaya-budaya asing yang sangat mudah masuk ke negara ini.

Ragam di Silat Beksi

Silat Beksi, Seni Asal Betawi yang Eksis hingga Kini - Citizen6 Liputan6.com

Arena merupakan konteks mediasi penting yang didalamnya terdapat faktor eksternal yang selalu mengalami perubahan, oleh karenanya harus ada tindakan praksis dan intitusi individu untuk tetap mempertahankan eksistensi.

Beksi melakukan tindakan praksis dengan pembentukan habitus di kalangan anggotanya dan juga disertai dengan adanya proyek kreatif, palang pintu untuk semakin mengkuatkan identitas budaya Betawi melalui pencak silat.

Kita melihat bahwa rekonstruksi untuk memperkuat identitas Betawi dilakukan dengan 2 cara yaitu secara internal Beksi dan Eksternal Perkampungan Budaya Betawi.

Di Internal kita melihat bagaimana latihan yang sebelumnya tidak ditentukan oleh jadwal, sekarang sudah ditentukan dengan adanya jadwal pelatihan selama 2 kali dalam 1 minggu tentunya ini untuk mendukung rekonstruksi eksternal dari perkampungan budaya Betawi dengan terus mempertontokan berbagai kegiatan budaya Betawi yang secara rutin sudah terencana dan terjadwal.

Dari sisi musik, pembentukan habitus dapat terlihat dari pagelaran pencak silat dengan lantunan musik yang sangat memiliki khas budaya Betawi.

Bende, Gendang Anak, Gendang Induk, Neng-Nong, Te Hian, Terompet merupakan alat-alat musik yang akan terlantun setiap pagelaran silat dipentaskan. Bende sejenis alat musik seperti Gong menjadi ciri budaya Betawi yang dipertahankan semenjak dulu, dengan Bende dipukul maka tanda untuk berkumpul bagi orang-orang akan terjadi.

Ini merupakan alat musik yang dahulu dipergunakan oleh penguasa untuk memberikan informasi kepada khalayak ramai. Untuk alat musik tiup terdapat 2 yaitu te hian dan terompet. Te hian ini berasal dari China yang bentuknya menyerupai terompet dan alat musik yang terakhir digunakan dalam pementasan adalah terompet.

Bahwa dengan mendengar lantunan musik seperti di atas identitas kebetawian akan terlihat dengan nyata. Percampuran budaya China, Arab dengan Betawi sangat kental dalam tiap pementasan silat Beksi namun tetap memperlihatkan bahwa Silat Beksi menjadi penanda identitas Betawi.

Adanya proyek Palang Pintu yang pada era sebelumnya di pencak silat tidak ada, juga merupakan bentuk bagaimana Beksi ingin terus menampilkan bahwa identitas Betawi bisa terlihat di khalayak luas.

Tradisi Palang Pintu merupakan tempat pertemuan antara gerak silat masa lampau yang tidak menampilkan pantun-pantun dan ditampilkan dalam acara adat pernikahan dikombinasikan dengan kondisi saat ini yang menarik budaya seperti silat untuk dijadikan bagian dari resepsi adat pernikahan.

Tidak hanya menonjolkan keindahan dalam artian nilai interistik dalam seni, namun juga terus mengalami perubahan, dilanjutkan dan terus dilengkapi, ini terlihat dari perubahan pakaian yang digunakan dalam pementasan palang pintu.